Pages

Jumat, 23 September 2011

ILMU, ADAB DAN TATA CARA MENCARINYA

MUQODDIMAH

Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Alloh Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya, dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat. (HR. Ar-Rabii')

"Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui". (QS. Az Zumar: 9).

Wahai Aba Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah lebih baik bagimu daripada shalat (sunnah) seratus rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik daripada shalat seribu raka'at. (HR. Ibnu Majah)

Ibnu Taimiyah : ilmu yang baik adalah ilmu yang mengarah kepada pemahaman Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena keduanya merupakan warisan Nabi. Siapa mau mengambil keduanya, maka akan beruntung.

Ibnu Abbas : benih-benih pengetahuan adalah mempelajari ilmu.

Ibnul Mubarok : pertama kali ilmu adalah niat, kemudian mendengarkan, kemudian memahami, kemudian menghafal, kemudian mengamalkan, kemudian menyampaikan kepada orang lain.

Umar Maula Ghufroh : Orang yang pandai itu masih bisa dikatakan pandai selama ia tidak mendahulukan akal/hawa nafsu / ro’yu-nya kemudian ia mau mendatangi orang yang lebih pintar lagi darinya untuk menimba ilmunya.

Abu Kholid Al-Ahmar : akan datang suatu masa, mushaf Al-Qur’an dan tafsirnya tidak dibaca dan dikaji lagi, manusia saat itu hanya mengikuti pembicaraan dan pendapat seseorang. Hindarilah sikap seperti itu, jika tidak, hal itu hanya akan menampar wajah, memperpanjang komentar yang tidak jelas ujung pangkalnya dan membuat rusaknya hati.

Rusaknya pemikiran, mental & tindakan manusia hari ini merebak di berbagai kolong bumi. Keluarga yang nampaknya muslim telah teracuni pemikiran sekuler dan kafir, sehingga mereka jauh dari pemahaman Islam yang benar. Secara lahiriyah, gelar-gelar akademis sebagai Guru, Alim-ulama, Doktor, Sarjana, Profesor dan status sosial di tengah masyarakat sebagai ketua RT, RW, Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, Menteri, Presiden bahkan sampai Direktur perusahaan tertentu telah mereka raih, akan tetapi hal itu tidak menjadikan mereka merasa takut kepada Allah dan semakin benar sikap ibadah kepada-Nya, bahkan bersikap sebaliknya.

Hal ini barangkali disebabkan ketika mencari ilmu, ada beberapa hal yang tidak benar, yaitu belum mengerti adab-adab mencari ilmu dan bagaimana cara meraih/mendapatkan ilmu yang bermanfaat. agar diri dan keluarga muslim tidak terjebak oleh pengaruh orang-orang kafir dan sekuler, kita ikuti kajian berikut ini.

ADAB-ADAB MENCARI ILMU

 

1. Ikhlash Lillah

Seorang alim apabila menghendaki dengan ilmunya keridhoan Allah maka dia akan ditakuti oleh segalanya, dan jika dia bermaksud untuk menumpuk harta maka dia akan takut dari segala sesuatu. (HR. Ad-Dailami)

Hendaklah seorang pencari ilmu selalu mengoreksi dan memperbaiki niyatnya, beramal untuk-Nya, menghidupkan syariat-Nya, menerangi hati dan batinya dan selalu taqarub kepada Allah.

 

2. Menjaga diri secara lahir dan batin dari hal-hal yang bertentangan dengan hukum Allah

Thalib Ilmy, harus selalu menampakkan secara nyata sunnah Nabi dan meninggalkan amalan-amalan bid’ah dalam segala keadaan.

Abdul Malik Al-Maimuni : aku belum pernah melihat manusia sehebat Imam Ahmad bin Hambal, pakaiannya selalu putih-bersih, kumisnya bersih, jenggotnya rapi dan janjinya selalu tepat. Beliau diam dan geraknya selalu menghidupkan sunnah.

Khotib Al-Baghdady : tholib ilmy harus meninggalkan sendagurau, tertawa terbahak-bahak, boleh saja tertawa namun jangan sampai keluar dari etika ilmu. Sebab tertawa akan mematikan hati dan mengurangi wibawa seseorang.

Imam Malik : hendaklah tholib ilmy selalu bersikap lunak, tenang dan khusyuk dan selalu mengikuti akhlaq orang-orang terdahulu.

Menjaga batin disini maksudnya : menghindarkan diri dari akhlaq yang tercela dan sifat-sifat tidak terpuji. Karena ilmu itu merupakan ibadahnya hati, hubungan yang tersembunyi tetapi membawa kedekatan diri kepada Allah Ta’ala.

Abu Hamid : hati ibarat rumah, ia merupakan tempat turunnya Malaikat, tempat bersandarnya keputusan, maka sifat tercela seperti marah, syahwat, iri-dengki, sombong, berbangga dan sifat keji lainnya jika selalu menggema di dalam hati, itu ibarat binatang anjing yang menggongong, kalau sudah begitu bagaimana mungkin Malaikat akan masuk ke dalam rumah-nya ?

 

3. Fikiran & hatinya konsentrasi kepada ilmu, Singkirkan rintangan dan kebiasaan buruk

Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. (HR. Muslim)

Kebiasaan bermalas-malas, bersantai ber-mental cengeng adalah rintangan seorang pencari ilmu. Ini adalah betul-betul merupakan halangan.

Ada tiga hal yang akan merintangi perjalanan manusia kepada Allah : 1. Syirik 2. Bid’ah 3. Maksiat.

Syirik akan tumbang dengan Tauhid, Bid’ah akan tumbang dengan Sunnah dan maksiat akan tumbang dengan taubat.

Syu’bah berkata : kamu sangat sibuk dengan bisnis di pasarmu, pantas kamu sukses hebat duniamu, sedangkan saya belajar hadits, maka saya menjadi papa.

Sofyan bin Uyainah : tinta-tinta ilmu dan kajian hadits tidak akan memasuki rumah, kecuali aktivitas itu akan menjadikan papa keluarga dan anak-anaknya.

Maksudnya, meskipun kesibukan taklim keluar rumah, jangan sampai keluarganya berantakan nasib ekonomi dan jaminan keamanannya.

Apabila seorang tholib datang kepada Sofyan Ats-Tsauri maka ia ditanya : Apa kamu sudah punya maisyah/penghasilan ekonomi, bila jawabannya belum, ia disuruh pulang, bila jawabnya sudah dan cukup, maka boleh ikut belajar bersama Sofyan Ats-Tsauri.

 

4. Selalu berhati-hati dalam masalah makan

Rosulullah bersabda : Sesungguhnya syetan betul-betul berjalan mengalir lewat aliran darah manusia, maka persempitlah aliran darah itu dengan cara berlapar-lapar, agar syetan tidak bisa masuk. (HR Ahmad)

Imam Syafi’i : saya tidak pernah merasa kenyang selama 16 tahun, karena banyak makan ( berkenyang-kenyang ) akan mudah mengantuk, menumpulkan akal, melemahkan perasaan dan malas badan. Maka banyak makan itu dibenci oleh syari’at.

Banyak makan dan minum hanya akan menyibukkan diri untuk masuk-keluar WC, orang yang berakal pasti akan menjaga betul dalam masalah ini.

Ibnu Qudamah : syahwat perut adalah syahwat yang paling berbahaya. Karena syahwat perut inilah Nabi Adam terusir dari surga, syahwat perut akan menyeret kepada syahwat kemaluan dan gandrung kepada harta. Rata-rata malapetaka jiwa itu berangkat dari kenyangnya perut.

Seorang pencari ilmu ia harus ektra-hati-hati dalam segala keadaan, selalu meneliti ke-halalan makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggalnya, juga segala kebutuhan keluarganya. Hal itu agar hati diri dan keluarganya mendapatkan cahaya dan mudah menerima ilmu.

 

5. Sedikit tidur dan bicara

Al-Hasan bin Ziyad rajin mengkaji ilmu-ilmu keislaman, dia berumur 80 tahun, selama 40 tahun-nya ia jarang tidur.

Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani : ia tidak tidur malam, buku-buku bertebaran di sampingnya, di samping tempat belajarnya ia sediakan seciduk air untuk menghilangkan kantuknya itu. Ia berkata : ngantuk itu adalah panas, maka harus diguyur dengan air dingin agar tidak ngantuk.

Ibnu Abdil Barr : fitnah seorang alim apabila dia suka banyak bicara. Orang mendengar itu selamat dan akan bertambah ilmu dari orang yang berbicara, sedangkan pembicaraan itu kadang ada hiasan, tambahan dan pengurangan. Orang yang banyak bicara akan menunggu fitnah, orang yang diam akan menuai rahmat.

 

6. Mengurangi pergaulan jika perlu dan selektif memilih kawan

Duduk bersama para ulama adalah ibadah. (HR. Ad-Dailami)

Pergaulan jika mampu adalah pergaulan yang membawa kebaikan dan takwa, hal itu sangat dianjurkan, akan tetapi jika membawa maksiat dan dosa itulah yang dilarang. Bahkan pergaulan antar kaum muslimin merupakan unsur ibadah, seperti sholat berjama’ah lima waktu, sholat dua hari raya, sholat gerhana, pelaksanaan ibadah haji dan jihad fie sabilillah.

Celakanya pergaulan, jika hanya akan membawa sia-sianya umur tanpa guna, rusaknya aqidah, hancurnya harta benda dan jatuhnya harga diri.

Pilihlah kawan yang shalih, punya pemahaman dien, taqwa, waro, cerdas , suka berbuat baik, sopan diplomasinya, suka diskusi yang bermanfaat, jika kamu lupa ia mengingatkanmu, jika kamu butuhkan selalu siap membantumu dan jika sedang teruji masalah selalu sabar.

Carilah kawan yang punya lima sifat : berakal, akhlaqnya baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah dan tidak rakus pada harta. Akal adalah kunci harta, berkawan dengan orang tidak berakal akan merugikanmu, karena dia akan memeras kamu. Orang fasiq, ia tidak takut kepada Allah dan tidak bisa dipercaya omongan dan tindakannya.

 

7. Memilih ilmu yang dibahas dan siapa pengajarnya

Seorang pencari ilmu harus berfikir hal yang terpenting sebagai pijakan untuk melangkah. Ilmu mengenal Allah adalah pangkal dari segala ilmu, dari segi Uluhiyah, Rububiyah, Asma’ dan Sifat-Nya. Ia merupakan pijakan seorang hamba untuk meraih kebahagiaan dan kebaikan dunia dan akhirat.

Kongkritnya, pencari ilmu harus meletakkan selera/kemauan awalnya adalah memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena keduanya merupakan dasar ilmu yang haq. Bodoh terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan klimaknya- kebodohan yang tidak akan tertolong. Sungguh, ini merupakan nasehat yang sangat penting bagi pencari ilmu.

Imam Syafi’i berkata : ilmu selain Al-Qur’an hanyalah sendagurau, kecuali Hadits Nabi, kalau bukan Hadits Nabi yaitu kegiatan-kegiatan yang menjurus kepada pemahaman ajaran Islam. Ilmu yang sebenarnya adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, selain dari itu adalah bisikan-bisikan syetan.

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah : Ilmu adalah Al-Qur’an, Sunnah Nabi dan perkataan Sahabat.

Maka, tambang ilmu itu sebenarnya adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Celaka atas umatku dari ulama yang buruk. (HR. Al Hakim)

Ibnu Jama’ah : seorang pencari ilmu harus berfikir ulang, ber-istikhoroh meminta kepada Allah kepada siapa ia akan menimba ilmu, baguskah perangainya dan lain-lain.

Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami)

Ibrahim berkata : orang-orang salaf kalau mau belajar kepada guru, ia perhatikan betul guru tersebut cara berpakaian, tutur bicaranya dan sholat lima waktunya, kalau sudah jelas, ia baru mau belajar kepadanya.

Imam Ats-Tsauri : siapa yang mendengarkan suara orang-orang ahli bid’ah, sikapnya itu akan sia-sia di hadapan Allah SWT, siapa yang ber-jabat tangan denganya, akan mengurangi nilai Islam sedikit demi sedikit.

Ibnu Sirin : Sesungguhnya ilmu ini adalah DIEN, maka perhatikan betul dari siapa kamu mendapatkan ilmu itu.

Seseorang mempelajari fisika, kimia, biologi, kedokteran, geografi, kemiliteran, ilmu-ilmu sosial dan lainnya, bila tidak didasari dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah secara benar maka akan membahayakan dirinya, keluarganya, masyarakat dan negaranya. Lebih-lebih guru/dosen mereka yang tidak jelas amaliyah dan fikrahnya. Jangan-jangan guru/dosenya adalah musuh Islam, atau kafir tulen yang selalu melecehkan Islam.

 

8. Menjaga adab terhadap Guru

Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka ... neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ibnu Thowus mendengar dari bapaknya : menghormati guru adalah sunnah.

Maimun bin Mihran : janganlah kamu berdebat dengan orang yang lebih pintar darimu, itu tidak akan membawa manfaat bagimu.

Az-Zuhri : Salmah sering mendebat Ibnu Abbas, akhirnya Salmah tidak banyak mendapatkan ilmu darinya, padahal Ibnu Abbas ilmunya sangat banyak.

Ibnu Jama’ah : seorang murid jangan sampai masuk ke majlis guru kecuali harus ijin, baik guru dalam keadaan sendirian ataupun ada pendampingya. Ketika memasuki majlis taklim, hendaklah bersih badan, pakaian dan kukunya, jangan sampai bau badanya menyengat tidak harum. Ingat, masjlis taklim adalah majlis dzikir dan pertemuan yang hal itu merupakan ibadah.

Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu. (HR. Ath-Thabrani)

Abu Bakar bin Al-Anbari dalam majlis ilmunya, ketika murid mendengarkan ilmu, suasananya sangat tenang, seolah-olah kepala mereka jika dihinggapi burung maka burung itu tidak akan terbang, saking tenangnya suasana belajar.

Abdurrohman bin Umar : pernah ada seorang murid bermajlis di tempatnya Abdurrohman bin Mahdi, dia ter-tawa-tawa. Maka murid itu dimarahi dengan kata-kata tegas, di sini kamu mencari ilmu sambil tertawa-tawa, sebagai peringatan, kamu saya skorsing untuk tidak boleh mengikuti pelajaran selama satu bulan.

Imam Ibnu Hajar Al-Atsqolany, gurunya 600 orang, guru/syekh yang telah memberikan ijazah secara resmi sebanyak 450 orang. Beliau telah menulis 150 buku.

9. Menjaga adab terhadap kitab

Kitab adalah alat ilmu. Orang-orang salaf sangat serius menjaga kitab-kitab mereka. Murid selalu berusaha menyiapkan buku-buku yang ia butuhkan, dengan cara membeli ataupun meminjam, sekali lagi karena buku itu sangat penting. Boleh saja meminjam buku kepada orang lain, jika bisa merawat dengan baik, karena hal itu dalam rangka menghormati ilmu yang ada di dalamnya.

Peminjam buku tidak boleh se-enaknya mencoret buku tersebut, atau merubah bentuk buku itu kecuali harus ijin kepada pemiliknya.

Waki’, guru Imam Syafi’i berkata : Berkahnya ilmu hadits adalah merawat buku.

Sofyan Ats-Tsauri : siapa bakhil terhadap ilmu yang ia miliki, maka akan terjerat tiga perkara : lupa dan tidak hafal lagi ilmunya, ilmunya mati dan tidak bermanfaat atau hilang buku-bukunya.

Imam Az-Zuhri : Hai Yunus, kamu jangan berlebih-lebihan dalam masalah buku, maksudnya buku itu disimpan saja, tidak pernah dibaca dan dipinjam oleh kawan-kawannya.

Robi’ bin Sulaiman : Al-Buthy mengingatkan saya : jagalah buku-bukumu, jika bukumu hilang kamu sulit mendapatkan gantinya.

Sofyan : Jangan kau pinjamkan buku-bukumu kepada orang lain.

Jangan sampai kamu letakkan bukumu secara sembarangan, letakkan di rak yang rapi agar tidak rusak.

 

10. Adab di ruang belajar

Apabila kamu melewati taman-taman surga, minumlah hingga puas. Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apa yang dimaksud taman-taman surga itu?" Nabi Saw menjawab, "Majelis-majelis taklim." (HR. Ath-Thabrani)

Seorang murid ketika memasuki majlis hendaklah punya semangat yang membara, hatinya konsentrasi pada pelajaran, tidak terganggu oleh kesibukan luar majlis, ketika memasuki ruangan hendaklah menebarkan salam dengan suara yang terang.

Imam Ahmad bin Hambal : di kegelapan pagi hari ba’da shubuh, tiap kali aku mau berangkat untuk mengkaji Al-Hadits, ibuku selalu menyiapkan pakaian yang akan aku pakai. Aku selalu bermajlis dengan Abu Bakar bin Ayyas dan lain-lain.

Saling berlakulah jujur dalam ilmu dan jangan saling merahasiakannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengetahuan lebih berat hukumannya daripada berkhianat dalam harta. (HR. Abu Na'im)

Sebelum pelajaran, hendaklah dimulai dengan Bismillahirrohamanirrohim, walhadulillah, wash-shalatuwassalam ala Rasulihi wa alihi wa ash-habihilkirom, kemudian mendoakan para Ulama, syekh-syekh, kedua orang tuanya dan segenap kaum muslimin.

Kalau ditanya oleh gurunya, sudahkah faham pelajaran ini, maka jangan bilang sudah, kecuali memang betul-betul sudah faham. Jangan malu berkata – saya belum mengerti – kalau memang belum mengerti.

Imam Mujahid : ilmu tidak bisa diraih dengan sikap malu-malu dan takabbur.

CARA MERAIH ILMU YANG BERMANFAAT

 

1. Hendaklah meminta dengan sungguh-sungguh kepada Allah ilmu yang bermanfaat.

Rasulullah pernah berdoa : Ya Allah berilah aku manfaat terhadap ilmu yang telah Engkau berikan kepadaku, ajarkanlah ilmu yang bermanfaat bagiku dan tambahlah aku ilmu.

 

2. Bersunguh-sungguh di dalam mencarinya, rasa rindu dan cinta yang jujur terhadap ilmu tersebut yang semua itu dilandasi dengan ridha Alloh SWT.

"Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah telah membentangkan baginya jalan ke surga, sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka (dengan) penuh keridhaan bagi penuntut ilmu, sesungguhnya penghuni langit dan bumi sekalipun ikan dalam air memohon ampunan untuk seorang alim, sesungguhnya keutamaan seorang alim di atas seorang ahli ibadah seperti keutamaan (cahaya) bulan purnama atas (cahaya) bintang-bintang, sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, sesungguhnya para nabi tidak mewariskan emas dan perak, tetapi mereka mewariskan ilmu, barang siapa yang mengambilnya berarti ia telah mendapat bagian yang cukup banyak". (HR At Tirmizi, Abu Daud, Ibnu Majah, dll).

Ahli hikmah : ilmu itu bisa diraih dengan semangat yang menyertainya, rasa cinta-senang mendengarkan akan ilmu itu dan selalu mengorbankan waktu untuk mendapatkannya.

Imam Syafi’i : kamu tidak akan bisa meraih ilmu kecuali dengan enam hal : 1. Kecerdasan 2. Tamak terhadap ilmu 3. Sungguh-sungguh 4. Menghubungi guru 5. Mengeluarkan dana 6. Terus-menerus tidak putus asa.

3. Menjauhkan diri dari kemaksiatan dengan jalan taqwa, karena hal itu merupakan faktor penting akan tercapainya ilmu.

Imam Malik berkata kepada Imam Syafii : Alloh Ta’ala telah memberikan ilmu ke dalam jiwamu, maka janganlah kau hapus ilmu tersebut dengan kemaksiatan.

Ibnu Mas’ud : saya perhatikan orang yang sering lupa terhadap ilmunya, itu disebabkan karena ia melakukan kemaksiatan.

4. Menghindari sikap takabbur dan sikap malu mencari ilmu.

Aisyah : sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, mereka tidak malu di dalam memahami ajaran Islam.

Imam Mujahid : Orang yang takabbur dan bermalu-malu mencari ilmu, tidak mungkin dia bisa belajar dengan baik.

5. Ikhlas di dalam mencari ilmu, ini adalah inti dan faktor terbesar dalam urusan mencari ilmu.

Siapa belajar suatu ilmu hanya sekedar mengejar keduniaan, ia tidak akan mencium baunya surga kelak di hari kiyamat.

6. Mengamalkan ilmu yang ia dapatkan.

Ibnu Taimiyah : ilmu yang terpuji dan bermanfaat adalah ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena keduanya merupakan warisan/peninggalan Nabi. Para Nabi tidak mewariskan harta berupa emas dan dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu, siapa yang mengambil ilmu itu maka akan beruntung.

"Demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, dan saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran". (QS. Al Ashri: 1-3).

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab beliau Ushul Ats tsalatsah mengutip perkataan imam Syafi’i tentang keutamaan kandungan surat Al ‘Ashr, setelah beliau menyebutkan empat tingkatan dalam berilmu;

Pertama: mempelajari Ilmu.

Kedua: mengamalkannya.

Ketiga: mendakwakannya.

Keempat: bersabar dalam setiap tiga tingkatan yang telah disebutkan sebelumnya.

MACAM-MACAM ILMU

 

Dalam sebuah hadis Rosululloh Sholallohu alaihi wa sallam bersabda:

إِنْ كَانَ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَشَأْنُكُمْ بِهِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أُمُورِ دِينِكُمْ فَإِلَيَّ

“Dari Anas  Radliyallahu 'anhu dan dari Aisyah Radliyallahu 'anhuma berkata: “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Untuk urusan dunia, maka kalian lebih mengetahui. Sedang untuk urusan dien, maka kembalikanlah kepadaku.”(HR Ibnu Majah)

Sekilas dari hadits di atas dapat dipahami, bahwa Nabi saw menyerahkan kepengurusan dunia ini kepada umatnya selama tidak menyimpang dari ketentuan  agama. Dan sudah jelas, bahwa yang dimaksud di sini adalah addin/agama (lihat kembali dipembagasan sebelumnya). Sehingga dari sini ada dua klasifikasi pokok dalam pembagian ilmu:

 

A. Ilmu Din/Syar’i

    1. Fardlu ‘ayyin

Yaitu ilmu-ilmu pokok yang menjadi penentu keabsahan aqidah dan ibadah seseorang, seperti rukun Islam dan rukun imam.

Imam An Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ilmu tersebut adalah ilmu-ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap mukallaf (muslim yang telah aqil baligh). Dimana seorang mukallaf tidak akan bisa mengerjakan kewajiban syar`i yang fardhu `ain melainkan dengan mempelajari ilmu tersebut

Imam Syafi`i memaknai ilmu yang fardhu `ain, adalah  Ilmu yang umum, yaitu ilmu yang tidak boleh bagi seseorang yang telah akil baligh dan tidak lemah akalnya untuk tidak mengetahuinya seperti sholat lima waktu, dan Allah mewajibkan atas manusia untuk berpuasa di bulan romadhon, haji ke baitullah bagi mereka yang mampu melaksanakannya, menzakati  harta mereka....."

Para ulama membagi ilmu syar`i yang fardhu `ain menjadi 3 bagian:

 

  i. Ilmu yang wajib dipelajari setiap mukallaf di setiap waktu dan tempat. Di antaranya adalah;

  1. Mengetahui rukun-rukun Islam.
  2. Mengetahui rukun-rukun Iman yang enam.
  3. Mengetahui macam-macam tauhid.
  4. Mengetahui Nawaaqidhul Islam (perkara-perkara yang mem-batalkan keislaman).
  5. Mengetahui ibadah-ibadah hati yang wajib.
  6. Mengetahui hukum-hukum thoharoh.
  7. Menghafal surat al Fatihah.
  8. Mengetahui hukum-hukum sholat.
  9. Mengetahui hukum zakat.
  10. Mengetahui hukum-hukum puasa.
  11. Mengetahui hukum-hukum haji.
  12. Mengetahui hukum-hukum jihad.
  13. Mengetahui kewajiban-kewajiban dan adab-adab yang fardhu `ain, seperti; birrul walidain, menjaga hak-hak tetangga, memuliakan tamu, wajib taat kepada ulil amri, tentang amar ma`ruf dll.
  14. Mengetahui perkara-perkara yang diharamkan, seperti; mak-siat yang dilakukan oleh hati, dosa-dosa besar, maksiat-maksiat mulut, maksiat pandangan, maksiat pendengaran, larangan dalam minuman dan larangan dadlamhal pakaian.
  15. Mengetahui wajibnya tauhid.

ii. Ilmu ini hanya wajib diketahui oleh sebagian mukallaf, tidak kesemuanya. Boleh jadi ia menjadi wajib bagi seseorang di suatu waktu, tapi di waktu yang lain tidak.Sebagai contoh, setiap orang yang terkena  kewajiban syar`i (seperti zakat dan haji) dan setiap orang yang menerjunkan diri dalam perkara-perkara yang mubah (seperti dagang dan nikah), maka dia wajib mempelajari hukum-hukumnya, karena ilmu harus ada sebelum adanya perkataan dan perbuatan.

Tentang ilmu ini, Ibnu Hazm mengatakan "Wajib bagi setiap pemilik harta untuk mempelajari hukum zakat yang menjadi kewajibannya, sama saja apakah ia laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak. Dan bagi mereka yang tidak mempunyai harta maka tidak wajib mempelajarinya. Demikian juga bagi orang yang telah terkena kewajiban haji, maka ia wajib mempela-jarinya".

Dan masuk dalam kategori ini juga adalah orang yang hidup di negeri yang banyak tersebar kelompok-kelompok sesat (seperti Syi`ah, Qodianisme, Baha`isme dll), maka ia wajib mempelajari ilmu-ilmu yang bisa membentengi imannya dari hal tersebut.

iii. Nawazil

Menurut Imam Nawawi nawazil adalah "Sesuatu yang jarang terjadinya". Menurut Syaikh Abdul Qodir bin Abdul Azis, contoh dalam perkara nawazil adalah ajakan untuk mengikuti paham demokrasi dan konsekwensi logisnya berupa pendirian-pendirian partai-partai politik dan parlemen-parlemen legislatif. Selain itu adalah pencalonan wakil dan pemilihannya. Ini semua adalah tergolong syirik akbar dan setiap muslim tidak boleh terlibat di dalamnya. Maka seorang muslim dituntut kejeliannya dalam memutuskan perkara semacam ini serta menerangkannya kepada umat.

    2. Fardlu kifayah

Yaitu ilmu yang wajib dipelajari dan dijaga oleh sebagian kaum muslimin. Apabila sebagian di antara kaum muslimin telah mengerjakannya dengan jumlah yang mencukupi, maka gugurlah kewajiban untuk mempelajarinya bagi kaum muslimin yang lain. Contohnya adalah ilmu-ilmu yang membahas cabang-cabang ilmu dien secara detail dan rinci seperti ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu faroidz dll.

 

B. Ilmu Dunia/Kauniy

Yaitu segala ilmu yang bisa mendatangkan maslahat dunia dan kehidupan seperti ilmu kedokteran, ilmu hisab, ilmu falak, ilmu perang, perdagangan dll. Hukumnya fardlu kifayah.

Imam Abu Bakar Jabir al Jaza`iri menjelaskan bahwa hukum mempelajari ilmu dunia hukumnya adalah mubah. Hukum pembolehan ini merupakan hukum asal, di mana asal segala sesuatu itu adalah boleh sampai datangnya dalil yang  mengharamkannya atau mewajibkannya.

Lebih lanjut Imam al Jaza`iri menjelaskan, secara otomatis mempelajari dan mengetahui ilmu-ilmu semacam itu sangat dianjurkan mengingat man-faatnya yang banyak. Hal ini juga sejalan dengan hadits Nabi saw yang menyebutkan, "Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia yang lainnya".[8]

Pada akhir zaman kelak ilmu akan diangkat dan diambil, lalu timbul kebodohan dan berbagai fitnah

  • Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:

    Rasulullah saw. bersabda: Di antara tanda-tanda hari kiamat ialah diangkatnya ilmu, munculnya kebodohan, banyak yang meminum arak, dan timbulnya perzinaan yang dilakukan secara terang-terangan. (HR Muslim)

  • Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:

    Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya menjelang terjadinya hari kiamat terdapat beberapa hari di mana pada hari-hari itu ilmu akan diangkat, diturunkan kebodohan dan banyak terjadi peristiwa pembunuhan. (HR Muslim)

  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

    Rasulullah saw. bersabda: Hari kiamat semakin mendekat, ilmu akan dicabut, fitnah akan banyak muncul, sifat kikir akan merajalela dan banyak terjadi haraj. Para sahabat bertanya: Apakah haraj itu? Rasulullah saw. menjawab: Yaitu pembunuhan. (HR Muslim)

  • Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata:

    Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan cara mencabutnya begitu saja dari manusia, akan tetapi Allah akan mengambil ilmu dengan cara mencabut (nyawa) para ulama, sehingga ketika Allah tidak meninggalkan seorang ulama pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh yang apabila ditanya mereka akan memberikan fatwa tanpa didasarkan ilmu lalu mereka pun sesat serta menyesatkan. (HR Muslim)

""Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan."". (QS. Thahaa: 114).

-------

  1. Miftahul Jannah, Imam Asy-Syuyuthy
  2. Kitabul Ilmy, Zuhair bin Harb Abu Khaitsumah An-Nasaiy
  3. Shahih Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, Al-Hafidz Ibnu Abdil Barr
  4. Adab Thalibil Ilmi, Abu Abdullah Muhammad bin Said bin Ruslan
  5. Al-Hikmah fiddakwah Ilallahi Ta’ala, Said bin Ali bin Wahf Al-Qohthony
  6. Tahdzibut Tahdzib, Imam Ibnu Hajar Al-Atsqolany
  7. Madza Ya’niy Intimaiy Lil-Islam, Fathy Yakan ( edisi Indonesia )
  8. Al Faqiih wal Mutafaqqih karangan Khatib Al Baghdady.

  9. Iqtidha Al 'ilmi Al 'amal karangan Khatib Al Baghdady.

  10. Tadzkirotusami' wal Muta'alim karangan Ibnu Jama'ah.

  11. Fadhlu 'Ilmu Salaf karangan Ibnu Rajab Hambaly.

  12. Adabut Thalab karangan Imam Asy Syaukany.

  13. Kitaabul 'Ilmi karangan Syekh Al 'Utsaimin.

  14. Kaifa Tathlubu 'Ilma karangan Abdullah Jibrain.

  15. Hilyah Thalibil 'ilmi karang Bakar Abu Zaid.

  16. Ma'alim fii Thoriqil Ishlah karangan Abul Aziz As sadhaan.
  17. kitab al Jami` fie tholabil Ilmi Asy Syarif, Syaikh Abdul Qodir bin Abdul Aziz

- Wallahu A’lam bish Shawab -

0 komentar:

Poskan Komentar