Pages

Minggu, 12 Oktober 2014

Adab Islami Sebelum Tidur

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Aktifitas sehari-hari membuat seseorang menjadi lelah akibatnya efek kantuk menyerang. Dalam ajaran Islam sebaiknya seorang muslim sebelum tidur dapatmelaksanakan adab-adab karena didalamnya terkandung banyak manfaat. Adab islami sebelum tidur yang seharusnya tidak ditinggalkan oleh seorang muslim adalah sebagai berikut.

Pertama: Tidurlah dalam keadaan berwudhu.
Hal ini berdasarkan hadits Al Baro’ bin ‘Azib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ
Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)

Kedua: Tidur berbaring pada sisi kanan.
Hal ini berdasarkan hadits di atas. Adapun manfaatnya sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim, “Tidur berbaring pada sisi kanan dianjurkan dalam Islam agar seseorang tidak kesusahan untuk bangun shalat malam. Tidur pada sisi kanan lebih bermanfaat pada jantung. Sedangkan tidur pada sisi kiri berguna bagi badan (namun membuat seseorang semakin malas)” (Zaadul Ma’ad, 1/321-322).

Ketiga: Meniup kedua telapak tangan sambil membaca surat Al Ikhlash (qul huwallahu ahad), surat Al Falaq (qul a’udzu bi robbil falaq), dan surat An Naas (qul a’udzu bi robbinnaas), masing-masing sekali. Setelah itu mengusap kedua tangan tersebut ke wajah dan bagian tubuh yang dapat dijangkau. Hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dikatakan oleh istrinya ‘Aisyah.
Dari ‘Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata,
كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017). Membaca Al Qur’an sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini lebih menenangkan hati dan pikiran daripada sekedar mendengarkan alunan musik.

Keempat: Membaca ayat kursi sebelum tidur.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,
وَكَّلَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ ، فَأَتَانِى آتٍ ، فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – . فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « صَدَقَكَ وَهْوَ كَذُوبٌ ، ذَاكَ شَيْطَانٌ »
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadhan kemudian ada orang yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali, lalu aku katakan, “Aku pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“. Lalu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhumenceritakan suatu hadits berkenaan masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi berkata, “Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi“. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu syetan“. (HR. Bukhari no. 3275)

Kelima: Membaca do’a sebelum tidur “Bismika allahumma amuutu wa ahyaa”.
Dari Hudzaifah, ia berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ « بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا » . وَإِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا ، وَإِلَيْهِ النُّشُورُ »
Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari no. 6324)
Masih ada beberapa dzikir sebelum tidur lainnya yang tidak kami sebutkan dalam tulisan kali ini. Silakan menelaahnya di buku Hisnul Muslim, Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohthoni.

Keenam: Sebisa mungkin membiasakan tidur di awal malam (tidak sering begadang) jika tidak ada kepentingan yang bermanfaat.
Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari no. 568)
Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!” (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah)


Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Minggu, 05 Oktober 2014

Enam Hak Muslim

> Jika engkau bertemu dengannya, ucapkanlah salam.
> Jika dia mengundangmu, maka datanglah.
> Jika dia meminta nasehat kepadamu, maka berilah nasehat.
> Jika dia bersin lalu mengucapkan Alhamdulillah, maka do'akanlah.
> Jika dia sakit, maka jenguklah.
> Jika ia meninggal, maka iringilah jenazahnya.

muslim.or.id


Minggu, 28 September 2014

Adab Penuntut Ilmu (bagian 1)

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, kita memujinya dan meminta pertolongan serta memohon ampunan kepada-Nya.
Pembaca yang budiman, tahukah anda bahwa di zaman sekarang banyak orang yang memiliki ilmu baik ilmu pengetahuan atau dalam hal agama namun sedikit sekali dari ilmu yang mereka miliki mendatangkan manfaat bagi ummat manusia. Ada orang yang mengatakan semakin tinggi sekolah seseorang semakin buruk adab dan akhlaknya, semakin kurang ajar dia, semakin berani menentang yang haq dan berbagai tindakan lain, mengapa demikian?
            Adab merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dipelajari sebelum belajar ilmu. Ibnu Wahhab rahimahullah berkata : “Apa yang kami nukil dari adabnya Imam Malik r.a lebih banyak daripada yang kami pelajari dari ilmunya”. Murid murid Imam Malik ketika belajar kepadanya yang mereka pelajari bukan hanya ilmu melainkan juga adab. Kita tahu bahwa ilmu di zaman sekarang mudah didapat, dengan membeli buku, membuka facebook, twitter, blog, dan website-website kita sudah bisa dapatkan ilmu. Namun adab belum tentu kita dapatkan dari cara seperti diatas, itulah pentingnya menghadiri majlis para ulama'.
Beberapa adab dalam menuntut ilmu diantaranya:

1. Mengikhlaskan niat semata karena Allah azzawajalla
Ikhlas merupakan kunci kita belajar apapun. Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Artinya :Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan    kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(Al-Bayyinah:5)
Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang mencari ilmu yang semestinya mencarinya karena Allah namun tidaklah dia mencarinya karena menginginkan secuil dari pada dunia maka nanti hari kiamat dia tidak akan dapat mencium baunya surga”.(riwayat abu dawud, ibnu majah dalam mishkatul masyabih)
Hendaknya kita menuntut ilmu dengan tujuan ingin mendapatkan ridha Allah, mendapatkan ilmu, mengamalkan dan mengajarkan ilmunya serta mendatangkan manfaat untuk ummat dan kaum muslimin. Jangan sampai kita lupa bahwa manusia terbaik ialah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia.

2. Bertaqwa kepada Allah ialah kunci ilmu-ilmu
Allah berfirman :
وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴿٢٨٢
Artinya : Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu (Al-Baqarah:282)
Takutlah kepada Allah terhadap semua perkara yang Allah perintahkan dan terhadap apa yang Allah larang terhadap kamu darinya. Definisi taqwa itu banyak, namun yang inti ialah meninggalkan segala larangan Allah dan mengerjakan perintah-Nya. Sebagaimana Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴿٢٨      

Artinya : Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-hadid: 28)
Imam As-syafi'i berkata : “Barangsiapa yang ingin Allah membuka dan memberikan cahaya dihatinya maka hendaklah dia meninggalkan berbicara yang tidak ada manfaatnya dan meninggalkan dosa dan maksiat, hendaknya diantara dia dan Allah itu ada amalan yang rahasia (tersembunyi) maka sesungguhnya jika dia telah melakukan yang disebutkan itu maka Allah akan membuka baginya ilmu yang akan menyibukkannya dari yang lainnya dan sesungguhnya didalam kematian itu pasti banyak sekali kesibukan”.

Referensi : buku : an-nubaz fi tullabil ilmi karya Dr.syeikh hamd bin ibrohim al usman 

Sabtu, 27 September 2014

Alhamdulillah

Jika kita mampu BERSYUKUR
dengan apa yang kita ada
kita takkan risau
dengan apa yang bukan milik kita

jubahmuslim.com.my

Selasa, 23 September 2014

Ucapan Terimakasih yang Baik

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
Sekarang saatnya kita harus lebih tahu mengenai banyak hal kecil yang mungkin belum kita ketahui selama ini. Dengan bermaksud membagikan atau men-share-kan apa yang saya dapatkan, disini ada bagian-bagian inti sudah saya persiapkan untuk saudara-saudara yang membaca tulisan ini, semoga bermanfaat. *senyum*
Ketika kita di beri bantuan atau ketika kita mendapatkan pertolongan hal utama yang pasti di lakukan adalah ucapan terimakasih sebagai balasan dari apa yang telah kita dapatkan dari mereka. Bacalah beberapa hadist dibawah ini.
"Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, dia tidak berterima kasih kepada Allah." Kalimat ini adalah terjemahan dari hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya.
مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ

Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, dia tidak berterima kasih kepada Allah (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani)

Ada hadits lain yang senada dengan hadits di atas, yang juga berderajat shahih.
لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

Tidak bersyukur kepada Allah, siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Dishahihkan oleh Al-Albani)

Membudayakan berterima kasih, dengan demikian adalah salah satu ajaran Islam. Namun, bagaimana ucapan terima kasih yang terbaik?
Rasulullah SAW menjelaskan dalam haditsnya :
مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِى الثَّنَاءِ

Barangsiapa diperlakukan baik oleh orang lain kemudian ia berkata kepadanya "jazaakallah khairan" (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka ia telah memujinya dengan setinggi-tingginya. (HR. Tirmidzi, Al Albani berkata: "shahih")

Dalam hadits lain disebutkan :
إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لأَخِيهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِى الثَّنَاءِ

Jika seseorang berkata kepada saudaranya "jazaakallah khairan" (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka ia telah memujinya dengan setinggi-tingginya. (HR. Thabrani, Al Albani berkata: "shahih li ghairihi")

Demikianlah, jazakallah khairan adalah ungkapan terima kasih terbaik karena ia merupakan pujian tertinggi kepada saudara kita atas kebaikan yang telah dilakukannya. Ucapan jazakallah khairan itu juga merupakan doa baginya.

Penggunaan "jazakillah khairan" ini seperti yang tercantum dalam hadits shahih Bukhari ketika Usaid bin Hudhair berterima kasih kepada Aisyah :
فَقَالَ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ لِعَائِشَةَ جَزَاكِ اللَّهُ خَيْرًا ، فَوَاللَّهِ مَا نَزَلَ بِكِ أَمْرٌ تَكْرَهِينَهُ إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ ذَلِكِ لَكِ وَلِلْمُسْلِمِينَ فِيهِ خَيْرًا
Sedangkan jika ucapan itu ditujukan kepada banyak orang (jamak) maka ia berubah menjadi "jazaakumullah khairan."

jazakallah khairan = Pengucapannya Untuk Laki-laki (bentuk mudzakkar) huruf "kaf" difathah
jazakillah =  Pengucapannya Untuk Perempuan (bentuk mu'anas) huruf "kaf" dikasrah.
jazaakumullah khairan = Untuk banyak orang (jamak)
Kita menjupai sebagian orang mengucapkan :
Jazakallah = Semoga Allah membalasmu (Tidak lengkap)
Jazaakallah khairan = Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan (Lengkap)
Jazaakallah khairan katsiiran = Jemoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang banyak (Terdapat Penambahan)

Seyogyanya kita menghindari "jazaakallah khair" karena dalam gramatikal Arab artinya menjadi tidak jelas: "semoga kebaikan membalasmu dengan Allah."

Bagaimana jawaban "jazaakallah khairan" itu?

Sayangnya, dalam hadits tidak disebutkan jawaban dari jazakallah khairan, termasuk tidak disebutkan jawaban Aisyah ketika Usaid bin Hudhair mengucapkan jazakillah khairan kepadanya.
Sebagian ulama menjelaskan, memang tidak ada kesunahan jawaban tertentu untuk ucapan "jazakallah khairan." Sebagian ulama mempersilakan menjawab "amin" karena pada dasarnya "jazakallah khairan" adalah doa. Ada juga ulama yang mempersilakan menjawab dengan "afwan" karena ucapan "jazakallah khairan" itu adalah ucapan terima kasih (bentuk tertinggi pengganti "syukran"). Ada juga yang menggunakan "aamiin, waiyyakum" dengan maksud mendoakan kembali orang yang mengucapkan "jazakallah khairan."

Wallaahu a'lam bish shawab.

"Yang pasti, membudayakan "jazaakallah khairan" adalah lebih baik daripada "syukran" atau "terima kasih", khususnya diantara sesama ikhwah atau aktifis dakwah yang sama-sama mengerti tentang maksud dan dalilnya. Kepada masyarakat umum, tentu yang ideal adalah mengkomunikasikan dan mendakwahkan agar mereka mengerti. Tidak langsung memaksakan penggunaannya hingga menimbulkan kebingungan."

Al-Imam Al-Bukhari (dalam kitab Al-Ilmu) beliau berkata, “Ilmu itu sebelum berkata dan beramal”. Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah ta’ala “Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad: 19).

Dari ayat yang mulia ini, Allah ta’ala memulai dengan ilmu sebelum seseorang mengucapkan syahadat, padahal syahadat adalah perkara pertama yang dilakukan seorang muslim ketika ia ingin menjadi seorang muslim, akan tetapi Allah mendahului syahadat tersebut dengan ilmu, hendaknya kita berilmu dahulu sebelum mengucapkan syahadat, kalau pada kalimat syahadat saja Allah berfirman seperti ini maka bagaimana dengan amalan lainnya? Tentunya lebih pantas lagi kita berilmu baru kemudian mengamalkannya. Kita tidak boleh asal ikut-ikutan orang lain tanpa dasar ilmu, seseorang sebelum berbuat sesuatu harus mengetahui dengan benar dalil-dalilnya.


by DPP Ibnu Muqlah 1415

Senin, 22 September 2014

Menjalin Silaturrahim dengan Ibu Darmaji

11 September 2014 | 18.30 WIB


Silaturrahim bukan hanya dengan sesama mahasiswa, pun dosen tak boleh luput untuk disowani. Keputrian Ibnu Muqlah mengadakan kunjungan ke rumah Ibu Darmaji pada Kamis, 11 September lalu. Ba’da maghrib, sekitar pukul 18.30, perwakilan dari Ibnu Muqlah berangkat menuju rumah beliau.
Acara ini merupakan salah satu program dakwah (prodak) dari keputrian Ibnu Muqlah. Itulah sebabnya hanya akhwat yang mengikuti acara ini. Tetiba disana disambut dengan keramahan Bu darmaji.
Tujuan dari kunjungan ini tak hanya bersilaturrahim, tetapi juga mengundang Beliau untuk mengisi materi dalam acara kajian fiqih keputrian Ibnu Muqlah yang rutin diadakan hari Jum’at pada minggu ke-2 dan ke -4.
Pada kesempatan itu pula, Beliau mengevaluasi kajian-kajian yang lalu, bahwa ketika telah merencanakan kajian mulai jam 11.00, meskipun yang datang hanya 5 orang kita harus tetap melanjutkan kajian. Ketika kita datang lebih awal kita akan mendapat rezeki(ilmu) yang lebih (banyak). “Ketika kita berbuat kebaikan kita harus sabar serta tetap istiqomah.” Pesan Bu Darmaji.

Dan sampaikan ilmu walau satu ayat.”tambah Beliau. Ibu Darmaji berharap semoga kajian kepengurusan sekarang bisa berjalan dengan baik. Aamiin... (ana, ning)

Minggu, 21 September 2014

Tafsir Surat Al-Maidah :33

Allah azzawajalla berfirman :

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ
 
أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ﴿٣٣﴾

Artinya :(33)Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat         kerusakan di muka bumi, hanyalah  mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka             dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu    penghinaan untuk mereka didunia, dan di  akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,

Sababun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)
Diriwayatkan dari Qatadah rahimahullah dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa ada sekelompok orang yang berasal dari kabilah Ukl dan Urainah mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, kami adalah para penggembala, bukan petani, dan kami merasa berat dengan kondisi cuaca kota Madinah.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun memerintahkan mereka mendatangi sekelompok unta agar meminum air kencing dan susunya. Namun, mereka justru membunuh penggembala Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut dan membawa lari unta-untanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus pasukan untuk mencari jejak mereka. Mereka pun ditangkap dan dibawa kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau memerintahkan agar tangan dan kaki mereka dipotong, serta mata mereka disayat dengan besi panas. Selain itu, mereka juga dibiarkan di bawah terik matahari hingga tewas dalam keadaan demikian.
Qatadah rahimahullah berkata, “Telah sampai kepada kami berita bahwa ayat ini turunberkenaan tentang mereka.” (HR. al- Bukhari no. 3956, tanpa tambahan ucapan Qatadah tentang sebab turunnya ayat, Ibnul Jarud dalam al-Muntaqa hlm. 846, Sunan Kubra an-Nasa’i 8/282, dan lainnya)
Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ahli tafsir berbeda pendapat tentang sebab turunnya ayat ini. Adapun jumhur (mayoritas) ulama menyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan kabilah Urainah.” (Tafsir al-Qurthubi, 7/431)
Al-Imam Malik, asy-Syafi’i, Abu Tsaur, dan ashab ar-ra’yi berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan orang yang memberontak dari kalangan kaum muslimin, membajak, dan melakukan pengrusakan di muka bumi.” Ibnul Mundzir rahimahullah berkata, “Pendapat al-Imam Malik adalah pendapat yang benar.” Abu Tsaurrahimahullah menjadikan ayat setelahnya sebagai hujah bahwa ayat ini tidak diturunkan untuk kaum musyrikin, yaitu,
إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِن قَبْلِ أَن تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ ۖ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
 Kecuali orang-orang yang tobat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Maidah: 34)
Para ulama bersepakat bahwa jika kaum musyrikin ditemukan dalam keadaan mereka sudah masuk Islam, darah mereka haram untuk ditumpahkan. Hal ini menunjukkan bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan kaum muslimin.” (Tafsir al-Qurthubi, 7/433)
Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Yang benar, hukum ayat ini mencakup kaum musyrikin dan yang lainnya. Jadi, meliputi siapa saja yang melakukan apa yang terkandung pada ayat tersebut, tidak dikhususkan pada sebab turunnya ayat. Yang menjadi sandaran adalah keumuman lafadznya.” (Fathul Qadir, 2/50)
kisah dibalik Ayat ini

pada perang ahzab yakni perang dimana  kaum-kaum musyrikin dari luar kota madinah bersatu untuk menyerang nabi di kota madinah, kemudian dibuatlah parit dengan ide yang di usung oleh Salman Al-Farisi di perbatasan yang dianggap kemungkinan besar kaum musyrikin akan masuk lewat sana. Pada pembuatan parit ini, waktu itu, sedikit sekali makanan sehingga sangat melelahkan sekali bagi para sahabat dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Didalam kota madinah tidak hanya kaum ada muslimin tetapi juga kaum yahudi yang memiliki perjanjian dan ketetapan-ketetapan yang dibuat antara Nabi dan Mereka. Dengan upaya yang keras dan pembuatan parit, akhirnya kaum muslimin berhasil membuat kaum musrikin terhalau untuk memasuki madinah sampai magrib tiba. Namun kaum yahudi yang berada didalam kota madinah berhasil dihasut dan dibujuk sehingga mereka menghianati perjanjian antara mereka dan Nabi. Lalu mereke pun menyerang kaum muslimin dari dalam madinah. Hal ini di ceritakan secara eksplisit didalam surat Al-Ahzab ayat 10-13 :
إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا﴿١٠﴾
(10)(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.
هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زلْزَالًا شَدِيدًا﴿١١﴾
(11)Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.
وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا﴿١٢﴾
(12)Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: "Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya".
وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا ۚ وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ ۖ إِنْ يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا﴿١٣﴾
(13)Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu". Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)". Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.

Dengan pertolongan Allah yang dijelaskan didalam ayat 9 yang artinya :
Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.”
kaum muslimin memperoleh kemenangan.

setelah perang usai maka kaum muslimin dan nabi beristirahat kemudian datanglah malaikat jibril dia berkata :”Hai Muhammad apakah kamu hendak meletakkan senjata, sedang para malaikat belum melelakkan senjatanya? Pergilah ke bani Quraidoh dan perangilah orang-orang yang menghinati Allah dan nabinya.” maka nabi bersabda kepada sahabatnya yang artinya “ wahai kaumku pergilah ke bani quraidah dan janganlah solat ashar sebelum sampai disana”
setelah sampai dibani quraidah maka urusan orang yahudi yang berhianat itu diserahkan kepada Saad bin Muadz, Dia menetapkan bahwa untuk semua laki-lakinya dibunuh, perempuan dan anak-anak nya ditawan. Rasulullah bersabda yang artinya : “wahai saad bi muadz sungguh engkau telah memutuskan seperti apa yang Allah telah putuskan dilangit”. Maka lebih dari 600 orang pada waktu itu pun di penggal kepalanya . 

Sumber: http://asysyariah.com/tafsir-hukuman-bagi-para-penyamun/ dan kajian ba'da magrib oleh Ust. Muhammad Nur yasin