Selasa, 15 Juli 2014

Implikasi Sikap Hidup Orang MUNAFIK

By : DPP IM 14/15
  
وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah melaknati mereka; dan bagi mereka adzab yang kekal. (QS. At-Taubah : 68)

Munafik itu identic dengan kedustaan, pengkhianatan, penipuan, kedzaliman, kekufuran, dan pembangkangan. Karena itu, perbuatan munafik persis dengan tabiat setan yang mengingkari kebenaran, kejujuran, dan perbuatan yang haq. Bahkan dalam satu sisi orang munafik itu lebih jahat dan lebih ekstrim dibandingkan dengan kejahatan yang dilakukan orang kafir. Orang kafir memusuhi Islam secara transparan, sedangkan yang dilakukan orang munafik adalah menghancurkan dari dalam.
Orang munafik adalah oarng yang paling jahat dari semua orang dan layak untuk mendapat hukuman di hari kiamat. Ini karena mereka berperilaku sebagai Muslim, tetapi mereka adalah musuh yang paling jahat dari semua musuh karena mereka menyembunyikan kekufuran dan syirik. Pentingnya mempelajari kemunafikan adalah sebagaimana pentingnya memepelajari Tauhid karena kedudukannya saling berkaitan. Jika kita tidak memepelajari kufur, syirik dan nifaq, tidak dapat disangkal lagi, kita bisa jatuh ke dalamnya lalu menjadi Kafir. Jika seseorang tidak mengetahui karakteristik dari Musyirikin, dia akan menjadi Musyrik. Dan sama halnya jika kita tidak memepelajari karakteristik munafik, bisa-bisa kita akan menjadi munafik. Perhatian utama bagi setiap umat Muslim adalah menjauhi kufur, syirik dan nifak, kemudian beribadah kepada Allah semata.
Karena itu, orang munafik tak henti-hentinya menebarkan racun dan virus yang merusak umat Islam. Apakah dalam bentuk budaya, ideology, kegiatan social, mode pakaian, iklan, atau hal-hal lain yang menyesatkan. Begitu banyak peristiwa yang menyedihkan, yang dapat membangunkan bulu kuduk adalah akibat tipu daya mereka yang memotivasi hawa nafsu kepada kebatilan. Itulah akhlak yang tercela yang meruntuhkan keutamaan dalam jiwa, membunuh kreatifitas, dan mengkikis habis butir-butir kemuliaan sebagai orang yang berakal.
Ibnu Abbas menerangkan, bahwa Rasulullah telah bersabda: “Di akhir zaman nanti akan datang sekelompok manusia yang wajahnya wajah manusia, tapi hatinya hati setan. Sifat mereka sangat buas seperti harimau, tidak terbesit sedikitpun dalam hatinya rasa kasih sayang. Mereka suka membunuh, dan biasa melakukan perbuatan kotor. Bila didekati, mereka mencintaimu. Tapi bila dijauhi, menreka mengumpat dan membencimu. Bila dipercaya, mereka khianat. Anak-anak kecil di lingkungan mereka sudah terbiasa berhutang, remajanya sudah rusak moralnya, dan kalangan tuanya sangat jahat. ,ereka tidak mau lagi melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Siapapun yang memuji dan memuliakan mereka akan menjadi orang yang hina, dan siapapun yang meminta sesuatu kepadanya akan menjadi orang yang fakir. Yang mereka tegakkan adalh bid’ah, dan yang mereka jauhi adalah sunnah Rasul. Ketika kedaan sudah demikian, maka Allah menguasai mereka kepada pemimpin yang jahat, dan do’a mereka tidak dkabulkan lagi oleh Allah.”
Ancaman Allah iitu dikarenakan kejahatan, kedzaliman, dan kekufuranyang dilakukan orang-orang munafik itu sudah kelewat batas. Sifat yang sudah membudaya pada orang munafik amat sulit dimusnahkan, keran telah terukir di dalam jiwa, berurat dan berakar dalam hatinya. Akibatnya semua orang akan memalingkan diri. Yang dekat menjadi jauh, kawan menjadi lawan. Keadaan inilah yang diinginkan oleh oarng munafik.
Mu’adz bin Jabal menuturkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Kelak akan datang pada umat manusia suatu zaman dimana mereka merusak sunnahku, dengan melakukan bid’ah. Barangsiapa tetap berpegang teguh kepada sunnahku, dia akan dikucilkan. Barang siapa mengikuti ajaran bid’ah, dia akan mendapatkan lima puluh kawan atau lenih banyak lagi.” Para sahabat bertanya:”Ya Rasulullah, sesudahku nanti masih adakah orang yang memiliki keistimewaan?” jawab Rasulullah: “Ya, masih ada.” Para sahabat bertanya lagi:”Adakah mereka masih bertemu denganmu?” Jawab Rasulullah:”Mereka sudah tidak lagi bertemu denganku.” Para sahabat bertanya lagi:”Ya Rasulullah, masih adakah wahyu yang diturunkan kepada mereka?” Jawab Rasulullah:”Sudah tidak ada lagi wahyu yang diturunkan kepada mereka.” Lalu para sahabat bertanya lagi:”Ya Rasulullah bagaimana keadaan mereka?” Jawab Rasulullah:”Hati mereka rapuh, bagaikan garam dimasukkan ke dalam air.” Para sahabat kemudian bertanya lagi:”Ya Rasulullah bagaimana pola hidup mereka di zaman itu?” Jawab Rasulullah: “Mereka hidup bagaikan ulat yang sangat kecil yang berada dalam cokak.” Para sahabat bertanya lagi: “Ya Rasulullah, terus bagaimana mereka memelihara agamanya?” Jawab Rasulullah: “Ibarat memegang api yang membara. Bila diletakkan, api itu padam, dan bila dipegang, tentu akan membakar dirimu.”
Jika ada kemungkinan menjadi kafir, tidakkah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kita untuk memohon kepada Allah untuk menjadikan hidup kita dengan Islam dan mati dalam keadaan beriman. Mari kita sekarang dengan izin Allah mempelajari sebagian karakteristik Munafik (agar kita terhindar darinya, In Shaa Allah).
1.      Mereka mengklaim Beriman
Ada dua tingkatan kemunafikan, yakni seseorang itu kafir namun berpura-pura mejadi Muslim (nifaq akbar) dan jenis lainnya adalah dia seorang Muslim yang nyata-nyatanya melakukan perbuatan kemunafikan.
2.      Mereka tidak mempunyai Talazum
At-Talazum berarti kesatuan antara iman dan perbuatan, yaitu mengatakan dan melaksanakan apa yang kita Imani. Setiap Muslim dan kafir mempunai Talazum; seorang Muslim beriman kepada Allah dan menerapkan hal ini dalam perbuatannya (contoh shalat) dan perkataan (bertasbih). Sebagaimana, setiap Kafir membenci Allah dan agama-Nya dan selanjutnya kita melihat secara lisan mendeklarasikan perang melawan Islam dan kepada kaum Muslimin (melalui perkataan) dan melakukan keyakinan ini dengan membunuhi wanita, anak-anak, dan orang tua Muslim yang tidak bersalah.
3.      Mereka mempunyai penyakit di dalam hati mereka
Dalam tafsir Ibnu Katsir, dia menjelaskan bahwa istilah “penyakit” berarti keraguan. Selanjutnya kita selalu melihat mereka yang mempunyai tanda-tanda munafik, sering ragu terhadap ulama, Allah dan mujahidin dan sebagainya. Mereka ragu terhadap banyak aspek agama seperti hidup setelah mati, surge dan hari pengadilan, selanjutnya mereka melangkah terlalu jauh dengan meninggalkan ikatan islam.
4.      Mereka pembohong, pengingkar janji, dan tidak bisa dipercaya
Merupakan karaketristik paling umum dari orang munafik. Mereka pembohong, selalu mengingkari janji dan tidak bisa dipercaya dimana saja kita memepercayai sesuatu.
5.      Mereka menjadi kasar ketika berdebat
Berkaitan dalam bimbingan dan pengetahuan. Orang munafik dikenal orang yang sangat argumentatif dan membantah ketika dia terlibat diskusi atau debat. Ketika mereka tidak bisa memberikan jawabn untuk masalah tertentu atau menghadirkan kasus, mereka dari yang semula baik menjadi kasar (menggunakan kata-kata kotor, menggunakan sumpah, dan sebagainya) dan menjengkelkan.
6.      Mereka penyebab fitnah an keburukan namun mengkalim pembuat kedamaian
Orang munafik selalu berkomentar dan memperhatikan kesalahan orang lain, dan tidak pernah berpikir tentang kesalahan dan dosa mereka sendiri. Mereka selalu membuat fitnah dan keruskan, tetapi menunjuk jari mereka kepada orang lain selain mereka.

Di akhir zaman, keadaan umat manusia tidak lagi memperhatikan agama. Justru hidup dipenuhi dengan nafsu dan keserakahan. Memegang ajaran agama ibarat memegang api yang membara. Dipegang teguh, banyak mendapat cacian, cercaan, hinaan, dan dijauhi kawan. Tapi bila dilepas, agama akan hancur, dan kita akan mendapat adzab Allah yang lebih besar di akhirat. Dalam situasi yang demikian, yang paling istimewa adalah orang yang tetap memegang teguh ajaran agama, tanpa harus menjual agama dengan dunia.

Kamis, 03 Juli 2014

Keutamaan dan Motivasi Membaca Alquran di Bulan Ramadhan


By : DPP IM 14/15
            Bulan Ramadhan adalah bulan Alquran, maka dari itu hendaknya seorang muslim memberikan porsi perhatian yang lebih terhadap Alquran di bulan ini. Mengenai keutamaan membaca Alquran Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Faathir: 29-30)
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan bahwa membaca kitab Allah ada dua macam:
Pertama, membaca hukmiyyah, yakni membenarkan berita-berita yang ada dan melaksanakan hukumnya dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.
Kedua, membaca lafzhiyyah, yakni membaca lafaznya. Telah datang nash-nash yang cukup banyak menerangkan tentang keutamaannya, baik membaca secara umum isi Alquran, surat tertentu maupun ayat tertentu (lih. Majaalis Syahri Ramadhan, tentang Fadhlu tilaawatil Qur’aan).

Keutamaan Membaca Alquran

Berikut ini akan kami sebutkan keutamaan membaca Alquran:
1. Sebaik-baik manusia adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَه
Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Hal itu dikarenakan Alquran adalah firman Allah Rabbul ‘aalamin. Alquran merupakan ilmu yang paling utama dan paling mulia, oleh karena itu orang yang mempelajari dan mengajarkannya adalah orang yang terbaik di sisi Allah Ta’ala.
2. Alquran adalah sebaik-baik ucapan
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran.” (QS. Az Zumar: 23)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ »
Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk urusan adalah perbuatan yang diada-adakan (dalam agama) dan semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim)
Imam Syafi’i dan ulama lainnya berpendapat bahwa membaca Alquran merupakan dzikr yang paling utama.
3. Orang yang mahir membaca Alquran akan bersama para malaikat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
Orang yang lancar membaca Alquran akan bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti, sedangkan orang yang membaca Alquran dengan tersendat-sendat lagi berat, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Muslim)
Orang yang tersendat-sendat dalam membaca Alquran mendapatkan dua pahala adalah hasil dari membaca Alquran dan karena telah bersusah payah untuknya.
4.  Orang yang membaca Alquran diibaratkan seperti buah utrujjah yang luarnya wangi dan dalamnya manis.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ (البخاري)
Perumpamaan orang mukmin yang membaca Alquran adalah seperti buah utrujjah; aromanya wangi dan rasanya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Alquran adalah seperti buah kurma; tidak ada wanginya, tetapi rasanya manis. Orang munafik yang membaca Alquran adalah seperti tumbuhan raihaanah (kemangi); aromanya wangi tetapi rasanya pahit, sedangkan orang munafik yang tidak membaca Alquran adalah seperti tumbuhan hanzhalah; tidak ada wanginya dan rasanya pahit.” (HR. Bukhari-Muslim)
5.  Alquran akan memberi syafaat kepada pembacanya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah Alquran, karena ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat kepada pembacanya.” (HR. Muslim)
6. Membaca satu atau dua ayat Alquran lebih baik daripada memperoleh satu atau dua ekor onta yang besar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada para sahabat:
« أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ فَيَأْتِىَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِى غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطْعِ رَحِمٍ » . فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نُحِبُّ ذَلِكَ . قَالَ « أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإِبِلِ » .
Siapakah di antara kalian yang suka berangkat pagi setiap hari ke Bathhan atau ‘Aqiq dan pulangnya membawa dua onta yang besar punuknya tanpa melakukan dosa dan memutuskan tali silaturrahim?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami suka hal itu.” Beliau bersabda: “Tidak adakah salah seorang di antara kamu yang pergi ke masjid, lalu ia belajar atau membaca dua ayat Alquran? Yang sesungguhnya hal itu lebih baik daripada memperoleh dua ekor onta, tiga ayat lebih baik daripada tiga ekor onta, empat ayat lebih baik daripada empat ekor onta dan (jika lebih) sesuai jumlah itu dari beberapa ekor onta.” (HR. Muslim)
7. Rahmat dan ketentraman akan turun ketika berkumpul membaca Alquran
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ
Tidaklah berkumpul sebuah kaum di salah satu rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya, kecuali akan turun ketentraman kepada mereka, diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan Allah akan menyebut mereka ke hadapan makhluk di sisi-Nya.” (HR. Muslim)
8. Karena kemuliaan Alquran, tidak pantas bagi yang telah menghapalnya mengatakan “Saya lupa ayat ini dan itu”, tetapi hendaknya mengatakan “Ayat ini telah terlupakan.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لا يقُلْ أحْدُكم نِسيَتُ آية كَيْتَ وكيْتَ بل هو نُسِّيَ
Janganlah salah seorang di antara kamu berkata: “Saya lupa ayat ini dan ini”, bahkan ayat itu telah dilupakan.” (HR. Muslim)
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, “Hal itu karena ucapan “saya lupa” terkesan adanya sikap tidak peduli dengan ayat Alquran yang dihapalnya sehingga ia pun melupakannya.”
9. Membaca satu huruf Alquran akan memperoleh sepuluh kebaikan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidaklah mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)
10. Alquran merupakan tali Allah
Ali bin Abi Thalib berkata, “Alquran adalah Kitabullah, di dalamnya terdapat berita generasi sebelum kalian, berita yang akan terjadi setelah kalian dan sebagai hukum di antara kalian. Alquran adalah keputusan yang serius bukan main-main, barangsiapa meninggalkannya dengan sombong pasti dibinasakan Allah, barangsiapa mencari petunjuk kepada selainnya pasti disesatkan Allah. Dialah tali Allah yang kokoh,  peringatan yang bijaksana dan jalan yang lurus. Dengan Alquran hawa nafsu tidak akan menyeleweng dan lisan tidak akan rancu. Paraulama tidak akan merasa cukup (dalam membacanya dan mempelajarinya), Alquran tidak akan usang karena banyak pengulangan, dan tidak akan habis keajaibannya. Dialah Alquran, di mana jin tidak berhenti mendengarnya sehingga mereka mengatakan; “Sungguh kami mendengar Alquran yang penuh keajaiban, menunjukkan ke jalan lurus, maka kami beriman kepadanya”. Barangsiapa yang berkata dengannya pasti benar, barangsiapa beramal dengannya pasti diberi pahala, barangsiapa berhukum dengannya pastilah adil, dan barangsiapa mengajak kepadanya pastilah ditunjuki ke jalan yang lurus.”
11. Pembaca Alquran akan ditinggikan derajatnya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا
Akan dikatakan kepada pembaca Alquran “Bacalah dan naiklah (ke derajat yang tinggi), serta tartilkanlah sebagaimana kamu mentartilkannya ketika di dunia, karena kedudukanmu pada akhir ayat yang kamu baca.” (Hasan shahih, HR. Tirmidzi)
12. Dengan Alquran, Allah meninggikan suatu kaum dan dengannya pula Allah merendahkan suatu kaum
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
Sesungguhnya Allah meninggikan suatu kaum karena Alquran ini dan merendahkan juga karenanya.” (HR. Muslim)
Yakni bagi orang yang mempelajari Alquran dan mengamalkan isinya, maka Allah akan meninggikannya. Sebaliknya, bagi orang yang mengetahuinya, namun malah mengingkarinya, maka Allah akan merendahkannya.
13. Orang yang membaca Alquran secara terang-terangan seperti bersedekah secara terang-terangan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اَلْجَاهِرُ بِالْقُرْآنِ كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ وَ الْمُسِرُّ بِالْقُرْآنِ كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ
Orang yang membaca Alquran terang-terangan seperti orang yang bersedekah terang-terangan, dan orang yang membaca Alquran secara tersembunyi seperti orang yang bersedekah secara sembunyi.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i, lihat Shahihul Jaami’: 3105)
Oleh karena itu, bagi orang yang khawatir riya’ lebih utama membacanya secara sembunyi. Namun jika tidak khawatir, maka lebih utama secara terang-terangan.
14. Para penghapal Alquran dimuliakan oleh Islam
Di antara bentuk pemuliaan Islam kepada mereka adalah:
  • Mereka lebih berhak diangkat menjadi imam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya yang mengimami suatu kaum itu orang yang paling banyak (hapalan) terhadap Kitab Allah Ta’ala (Alquran). Jika mereka sama dalam hapalan, maka yang lebih mengetahui tentang sunah. Jika mereka sama dalam pengetahuannya tentang sunah, maka yang paling terdepan hijrahnya. Jika mereka sama dalam hijrahnya, maka yang paling terdepan masuk Islamnya –dalam riwayat lain disebutkan “Paling tua umurnya”-, janganlah seorang mengimami orang lain dalam wilayah kekuasaannya, dan janganlah ia duduk di tempat istimewa yang ada di rumah orang lain kecuali dengan izinnya.” (HR. Muslim)
  • Mereka lebih didahulukan dimasukkan ke dalam liang lahad, jika banyak orang yang meninggal
Pada saat perang Uhud banyak para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang gugur, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar yang lebih didahulukan dimasukkan ke liang lahad adalah para penghapal Alquran.
  • Berhak mendapatkan penghormatan di masyarakat
Oleh karena itu, di zaman Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu, para penghapal Alquran duduk di majlis musyawarahnya.
  • Berhak diangkat menjadi pimpinan safar
Imam Tirmidzi meriwayatkan –dan dia menghasankannya- bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengirim utusan beberapa orang, lalu beliau meminta masing-masing untuk membacakan Alquran, maka mereka pun membacakan Alquran. Ketika itu ada anak muda yang ternyata lebih banyak hapalannya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Surat apa saja yang kamu hapal, wahai fulan?” Ia menjawab: “Saya hapal surat ini, itu dan surat Al Baqarah.” Beliau berkata: “Apakah kamu hapal surat Al Baqarah?” Ia menjawab: “Ya.” Maka Beliau bersabda: “Berangkatlah, kamulah ketuanya.”
Ketika itu ada seorang yang terkemuka di antara mereka berkata: “Demi Allah, tidak ada yang menghalangiku untuk mempelajari suratAl Baqarah selain karena khawatir tidak sanggup mengamalkannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ، وَاقْرَأُوْهُ فَاِنَّ مَثَلُ الْقُرْآنِ لِمَنْ تَعَلَّمَهُ فَقَرَأَهُ وَقَامَ بِهِ كَمَثَلِ جِرَابٍ مَحْشُوٍّ مِسْكًا يَفُوْحُ رِيْحُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَمَنْ تَعَلَّمَهُ فَيَرْقُدُ وَهُوَ فِي جَوْفِهِ كَمَثَلِ جِرَابٍ أُوْكِىَ عَلَى مِسْكٍ
Pelajarilah Alquran dan bacalah, karena perumpamaan Alquran bagi orang yang mempelajarinya kemudian membacanya seperti kantong yang penuh dengan minyak wangi, dimana wanginya semerbak ke setiap tempat, dan perumpamaan orang yang mempelajarinya kemudian tidur (tidak mengamalkannya) padahal Alquran ada di hatinya seperti kantong yang berisi minyak wangi namun terikat.”
15. Tanda cinta kepada Allah adalah mencintai Alquran
Ibnu Mas’ud berkata, “Barangsiapa yang ingin dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah: “Jika ia mencintai Alquran, berarti ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Thabraniy dengan isnad, di mana para perawinya tsiqah)
Utsman bin ‘Affan berkata, “Kalau sekiranya hati kita bersih, tentu tidak akan kenyang (membaca) kitabullah.”
Marwan bin Musa
Maraaji’:
  • Fadhlu tilawatil Qur’an (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)
  • Mus-haf Ar Rusydiy
  • Kedudukan Alquran di hati Muslim (M. Mu’iinudinillah, MA)
  • dll.

Minggu, 29 Juni 2014

SQUAD STAFF IBNU MUQLAH 2014/2015



Ketua Umum : Asmianto
Sekretaris Jendral : Mochamad Ilham
Bendahara Umum : Auda Nuril Zazilah
Departemen Kaderisasi
Kepala Departemen : Resi Arumin Sani
Sekretaris Departemen : Shaffiani Nurul Fajar
Kepala Biro Pelatihan dan Pengembangan :
  1. Azzam Abdillah Shiddiq
  2. Siti Maghfioh
Kepala Biro Mentoring :
  1. Firdaus Priyatno Putra
  2. Bella Dinda Famela
Staff :
  1. Moch. Ardi Firmansyah
  2. Ahmad Maulana Syafi'i
  3. Ivan Octaviano
  4. Bayu Angga Rianto
  5. Maya Nurlita
  6. Airin Nur Hidayati
  7. Putri Saraswati
  8. Nurma Arika Widya Yoga
  9. Ayu Risanti Yuniar
Departemen Syiar
Kepala Departemen : Muhammad Zufar
Sekretaris Departemen : Iffah Nuril Khasanah
Staff :
  1. Samsul Ma'arif
  2.  Muhammad Suef
  3. Elmir Arif Irhami
  4. Achmad Romli
  5. Fatkhunur Fariza R
  6. Nur Qomariah
  7. Diah Handayani
  8. Retno Palupi
  9. Ina Nur Sholikah
  10. Zulfa Afiq Fikriya
  11. Lisa Anisa
Departemen Jaringan Media
Kepala Departmen : Muh Alwan Hadi
Sekretaris Departemen : Khoirun Ninggar Hidayati
Kepala Biro kelembagaan :
  1. Yoga Faisal Aminnudin
  2. Eries Bagita Jayanti
Kepala Biro Media :
  1. Aditya Putra Pratama
  2. Azaria Elvinarosa
Staff:
  1. Muhammad Rifki Muheimin
  2. Agus Setiawan
  3. Anshar Zamrudillah Arham
  4. Cendy Rahmawati
  5. Lailatul Mabadi Chaira
  6. Yenny Triningsih
  7. Azizah Widiasmara
Departemen Dana Usaha
Kepala Departemen : Asep Al-Baasith
Sekretaris Departemen : Ainun Khusnul Khotimah
Staff :
  1. Gery Dias Claudio
  2. M. Fakhrur Rozi
  3. Nina Sugiarti
  4. Siti Nur Diana
  5. Aminatun Sa'diyah
  6. Mufarrihah
  7. Melynda Sylvia Dewi
Departemen Keputrian
Kepala Keputrian : Auliyaul Hasanah
Sekretaris Departemen : Aslikhatu Baroroh
Staff :
  1. Risa Septi Pratiwi
  2. Rofiqoh Nur Rohmah
  3. Neni Im'roatus Sholikhah
  4. Eka Aprilia Permata Ardianti
  5. Tiara Surtikanti
  6. Dinan Fakhrana Ramadhani
  7. Febriana Prihatiningsih

Jumat, 20 Juni 2014

Belajar Ikhlas dari Ibadah Puasa

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:
Karena manisnya Ramadhan belum hilang, masih terasa indahnya beribadah di dalam Ramadhan, bahkan sebagian kaum muslim masih melanjutkan puasa setelah Ramadhan, sebagai penyempurna puasa Ramadhannya, yaitu Berpuasa 6 hari di bulan Syawwal.
Maka, pada kesempatan ini, dipaparkan salah satu pelajaran yang dapat diambil dari ibadah puasa yang baru kita lalui pada Ramadhan yang lalu.

Rabu, 18 Juni 2014

Ramadhan dan Harapan Pilpres Bersih

Oleh Ahmad Naufa Kh. F.
--Ramadhan merupakan bulan kebaikan dan pahala. Uforia Ramadhan disambut secara meriah dan hangat mulai dari pelosok desa sampai acara-acara televisi yang glamour dan materialistik. Sebagai bulan yang penuh berkah dan ampunan, momentum Ramadhan banyak dimanfaatkan kaum muslimin Indonesia untuk berlomba meraihnya, sebanyak-banyaknya. Hal ini sesuai dengan perintah melaksanakan puasa wajib pada bulan ini seperti terekam dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 183. 

Jumat, 13 Juni 2014

TERTAWA DALAM SHOLAT

Ada kejadian menarik saat Kiai Kholil Bangkalan masih menjadi santri di Pesantren Langitan Tuban. Seperti biasanya Kholil muda selalu berjamaah, yang merupakan keharusan para santri. Suatu ketika di tengah sholat Isya’ tiba-tiba Kholil tertawa terbahak-bahak.
Karuan saja, hal ini membuat santri lain marah. Demikian juga dengan Kiai Muhammad Noer yang menjadi imam saat itu. Seusai sholat berjamaah, Kholil dipanggil ke ndalem kiai untuk diinterogasi.

Jumat, 06 Juni 2014

Ringkasan Ceramah Agama Islam: Kami Bukan Politikus

Kita tidak bisa pungkiri, bahwa kita akan memilih pemimpin. Kita tidak bisa pungkiri, bahwa Indonesia akan memilih pemimpin pada tanggal 9 Juli 2014. Itu sebuah keniscayaan, insya Allah Ta’ala. Maka saya (Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.–Ed) ingin memberikan nasihat untuk diri saya pribadi dan juga kepada kaum Muslim seluruhnya. Ketahuilah bahwasanya pemimpin di dalam Islam sangat diperhatikan dan mencari pemimpin di dalam Islam adalah salah satu yang diajarkan di dalam Islam.