ComIng SoOn !

ComIng SoOn !

Kamis, 10 April 2014

Lomba CERDAS CERMAT GIM 2014

Assalamualaikum. . .
Ada yang baru dari Ibnu Muqlah Matematika ITS. mumpung belum ditutup, buruan daftar ya

untuk download formulir pendaftaran Cerdas Cermat di bawah ini :
Formulir

Rabu, 09 April 2014

GIM 2014 ! LTQ

untuk download Formulir pendaftarannya disini dibawah ini :
Form


Jumat, 21 Maret 2014

Tangisan yang Diperbolehkan Dalam Islam

Tangisan menurut perspektif Islam, ada dua jenis yaitu tangisan yang berbentuk negatif dan tangisan yang berbentuk positif.
Tangisan yang dilarang ialah seperti meraung dan melolong dengan sekuat hati apabila menerima atau meratapi kematia. Tangisan seperti ini bukan saja dipandang negatif kepada orang yang melakukannya tetapi juga mayat yang diratapinya itu turut tersiksa kerana perbuatannya.
Ini berbeda dengan tangisan positif yaitu tangisan yang terjadi kerana cinta dan takut kepada Allah. Malah Nabi Muhammad pun menangis bila mengenangkan kesengsaraan dan penderitaan yang dihadapi oleh umatnya serta tatkala baginda memohon ampun dari Allah.
Antara jenis-jenis tangisan yang dibenarkan malah diperbolehkan dalam Islam ialah:
1. Ketika Melahirkan Rasa Kesyukuran Kepada Allah
Orang-orang yang beriman dan bertaqwa akan sentiasa bersyukur dengan apa yang dikurniakan oleh Allah kepadanya. Golongan ini sama sekali tidak pernah mengeluh malah sentiasa ridho dengan apa yang mereka terima.
Maka dengan sebab itu, orang-orang seperti ini adakalanya menitiskan air mata apabila menerima rahmat dan nikmat-nikmat tersebut.
Sebagai contoh, dalam satu riwayat oleh Anas bahwa Rasulullah berkata kepada Ubay bin Ka’ab : “Allah menyuruh membacakan kepadamu Surah Al-Bayyinah ayat 1, “Orang-orang kafir yaitu ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahawa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,”
Ubay bertanya : “Apakah Allah menyebut namaku?” “Nabi menjawab ya, lalu menangislah Ubay (karena mendengar berita gembira itu).
Ayat tersebut menyatakan tentang pendirian kaum Yahudi dan Nasrani terhadap seruan Nabi Muhammad sebagai Rasul yang telah menerangkan kepada mereka agama yang telah dibawa olehnya iaitu agama Islam. Mereka (Yahudi dan Nasrani) kenal Nabi Muhammad yang diutus sebagai rasul kepada umat akhir zaman, tetapi setelah baginda dibangkitkan mereka tidak percaya malah tidak mau beriman kepada apa yang dibawa oleh baginda.
2. Karena Menyesali Perbuatan dan Dosa Yang Dilakukan
Tangisan penyesalan biasanya terjadi apabila seseorang yang telah melakukan dosa, menyadari dan menyesali perbuatannya dengan bersungguh-sungguh.
Ekoran daripada penyesalan itu maka timbul rasa sedih yang mendalam yang akhirnya akan menitiskan air mata. Tangisan yang sedemikian itu timbul akibat wujudnya rasa kesedaran yang mendalam dan rasa takut yang amat sangat kepada Allah. Keadaan seperti ini akhirnya akan mendorong seseorang itu bertaubat dan seterusnya kembali ke jalan yang benar.
Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam ayat 82 Surah al-Taubah,
“Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan banyak menangis sebagai pembalasan dari apa yang mereka telah kerjakan.”
3. Apabila Bertambah Keimanan Kepada Allah
Iman yang tertanam dalam hati akan terus subur dan mekar apabila disirami dengan ayat-ayat suci al-Quran yang dibaca dengan penuh penghayatan sehingga boleh menyebabkan seseorang itu menitiskan air mata.
Tangisan seperti ini merupakan tangisan yang tinggi nilainya karena ia merupakan campuran antara rasa kesadaran dan keimanan yang tidak berbelah. Justru tanpa disadari akan bercucuran tangisan akibat rasa keimanan yang begitu mendalam sebagaimana firman Allah dalam ayat 58, Surah Maryam;
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Tuhan Yang Pemurah, mereka segera sujud serta dan menangis.”
4. Timbul Dari Rasa Khusyu dan Tawadhu
Tangisan seperti ini boleh terjadi apabila seseorang itu khusyuk dalam beribadat. Air mata yang menitis itu bukan kerana perasaan sedih tetapi kerana menyedari betapa diri yang begitu kerdil ketika berhadapan dengan pencipta-Nya.
Bahkan, orang yang mencapai tahap kekhusyukan itu termasuk salah satu dari tujuh golongan yang memperoleh keistimewaan pada hari kiamat seperti sabda Rasulullah:
“Tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naunganNya (yaitu): Imam (pemimpin) yang adil, pemuda yang dibesarkan dalam beribadat kepada Allah, orang yang hatinya selalu rindu pada masjid, dua orang yang berkasih sayang semata-mata kerana Allah iaitu bertemu kerana Allah dan berpisah kerana Allah, seorang lelaki yang diajak berzina oleh wanita bangsawan dan rupawan lalu ditolaknya dengan berkata, “Aku takut kepada Allah”, seorang yang bersedekah dalam keadaan rahsia sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh tangan kanannya dan seseorang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan menyendiri lalu menitis air matanya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
5. Bimbang Terputusnya Rahmat Allah
Suatu hal yang menyedihkan hati dan amat dibimbangi oleh orang-orang yang beriman ialah terputusnya kebajikan dan rahmat Allah. Apabila keadaan ini berlaku, ia boleh mengubah suasana hati dan perasaan sehingga menjadi sedih dan terharu.
Sebagai contoh, pada suatu hari sesudah Rasulullah wafat, Saidina Abu Bakar mengajak Saidina Umar ke rumah Ummu Aiman seperti mana Rasulullah semasa hayatnya sering menziarahinya.
Sebaik sampai di rumah Ummu Aiman, tiba-tiba Ummu Aiman menangis. Kedua-dua tetamunya itu lantas bertanya, “Apakah yang menyebabkan kamu menangis? Tidakkah engkau tahu bahawa yang tersedia di sisi Allah untuk Rasulullah jauh lebih baik?” Ummu Aiman menjawab, “Aku tidak menangis kerana itu melainkan kerana wahyu dari langit telah terputus (terhenti).” Kata-kata Ummu Aiman itu ternyata mengharukan Abu Bakar dan Umar, lalu kedua-duanya turut menangis.
6. Apabila Terselamat Dari Kesesatan dan Menemui Kebenaran
Adakalanya air mata seseorang itu akan menitis apabila ditunjukkan oleh Allah jalan yang benar setelah sekian lama hanyut dalam kelalaian atau kesesatan. Bagi yang berada dalam situasi sedemikian, akan terus menangis dan tangisannya bukan kerana merasa sedih tetapi kerana terlalu gembira dengan hidayah yang diterima itu.
Hal ini pernah terjadi kepada segolongan pendeta apabila mengetahui al-Quran yang diturunkan kepada Rasulullah merupakan kebenaran dari Allah seperti firman-Nya:
“Dan apabila mereka itu (segolongan pendeta) mendengar apa-apa yang diturunkan kepada Rasul, engkau akan melihat mereka akan menitiskan air matanya, lantaran mengetahui kebenaran (seraya) mereka berkata; “Hai Tuhan kami! Kami telah beriman. Oleh kerana itu, catatlah kami dalam golongan orang-orang yang menyaksikan. Dan tidak patut kami tidak beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, pada hal kami ingin supaya Tuhan memasukkan kami bersama kaum yang soleh.” (Surah al-Maidah:83-84)
Daripada maksud firman Allah tersebut, jelaslah bahawa tangisan yang positif mempunyai keutamaan di sisi Islam sehingga tangisan seumpama itu boleh mendatangkan manfaat yang besar.
Ini karena, orang yang menitiskan air mata kerana Allah sebenarnya merupakan orang yang cukup tinggi rasa keimanan dan taqwanya seperti yang ditunjukkan oleh Rasulullah dalam satu riwayat dari Abu Daud dan Tirmizi bermaksud: “Kami datang kepada Rasulullah sedang baginda menunaikan shalat. Maka terdengar nafas tangisnya bagaikan suara air mendidih dalam bejana.” (nabawia)

http://www.jurnalhajiumroh.com/
Assalamu'alaikum,,,,
Untuk Muslimah Matematika dan umum, Yuk ikutan kajian keputrian Akustik "Ajang kajian Muslimah Matematika".

Hari ini, Jumat/21 Maret 2014

Pukul 11.00 @T101 Matematika ITS

Dengan Tema "Meneladani Generasi Emas Sahabiyat Rasulullah Pada Masa Kini"

Pembicara: Mbak Nurul TI'2007


Jumat, 14 Maret 2014

Rasulullah SAW - Jujur, Terpercaya, Komunikatif, dan Cerdas


Sebagai pemimpin teladan yang menjadi model ideal pemimpin, Rasulullah dikaruniai empat sifat utama, yaitu: Sidiq, Amanah, Tablig dan Fathonah.

Sidiq berarti jujur dalam perkataan dan perbuatan, amanah berarti dapat dipercaya dalam menjaga tanggung jawab, Tablig berarti menyampaikan segala macam kebaikan kepada rakyatnya dan fathonah berarti cerdas dalam mengelola masyarakat.

Kejujuran adalah lawan dari dusta dan ia memiliki arti kecocokan sesuatusebagaimana dengan fakta. Di antaranya yaitu kata “rajulun shaduq (sangat jujur)”, yang lebih mendalam maknanya daripada shadiq (jujur). Al-mushaddiq yakni orang yang membenarkan setiap ucapanmu, sedang ash-shiddiq ialah orang yang terus menerus membenar-kan ucapan orang, dan bisa juga orang yang selalu membuktikan ucapannya dengan perbuatan. Di dalam al-Qur’an disebutkan (tentangibu Nabi Isa), “Dan ibunya adalah seorang shiddiqah.” (Al-Maidah: 75). Maksudnya ialah orang yang selalu berbuat jujur.

Seorang pemimpin yang sidiq atau bahasa lainnya honest akan mudah diterima di hati masyarakat, sebaliknya pemimpin yang tidak jujur atau khianat akan dibenci oleh rakyatnya. Kejujuran seorang pemimpin dinilai dari perkaataan dan sikapnya. Sikap pemimpin yang jujur adalah manifestasi dari perkaatannya, dan perkatannya merupakan cerminan dari hatinya.

Terpercaya. Muhammad SAW bahkan sebelum diangkat menjadi rasul telah menunjukkan kualitas pribadinya yang diakui oleh masyarakat Quraish. Beliau dikenal dengan gelar Al-Amien, yang terpercaya. Oleh karena itu ketika terjadi peristiwa sengketa antara para pemuka Quraish mengenai siapa yang akan meletakkan kembali hajar aswad setelah renovasi Ka’bah, meraka dengan senang hati menerima Muhammad sebagai arbitrer, padahal waktu itu Muhammad belum termasuk pembesar.

Amanah merupakan kualitas wajib yang harus dimiliki seorang pemimpin. Dengan memiliki sifat amanah, pemimpin akan senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat yang telah diserahkan di atas pundaknya. Kepercayaan maskarakat berupa penyerahan segala macam urusan kepada pemimpin agar dikelola dengan baik dan untuk kemaslahatan bersama.

Tabliq atau Komunikatif. Kemampuan berkomunikasi merupakan kualitas ketiga yang harus dimiliki oleh pemimpi sejati. Pemimpin bukan berhadapan dengan benda mati yang bisa digerakkan dan dipindah-pindah sesuai dengan kemauannya sendiri, tetapi pemimpin berhadapan dengan rakyat manusia yang memiliki beragam kecenderungan. Oleh karena itu komunikasi merupakan kunci terjalinnya hubungan yang baik antara pemimpin dan rakyat.

Fathonah/cerdas. Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan di atas rata-rata masyarakatnya sehinga memiliki kepercayaan diri. Kecerdasan pemimpin akan membantu dia dalam memecahkan segala macam persoalan yang terjadi di masyarakat.
Kecerdasan pemimpin tentunya ditopang dengan keilmuan yang mumpuni. Ilmu bagi pemimpin yang cerdas merupakan bahan bakar untuk terus melaju di atas roda kepemimpinannya. Pemimpin yang cerdas selalu haus akan ilmu, karena baginya hanya dengan keimanan dan keilmuan dia akan memiliki derajat tinggi di mata manusia dan juga pencipta.

Sebagaimana firman Allah dalam Alquran.
“Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS.Al Mujadalah:11).

(rol/Dr HM Harry Mulya Zein) - Jurnal Haji dan Umroh

Kamis, 13 Maret 2014

Rabu, 12 Maret 2014

Cara Berdagang Ala Rasullullah

Seperti kita ketahui bahwa Seorang Muhammad selain seorang nabi dan rasul, seorang kepala negara, seorang panglima perang yang tangguh, beliau juga seorang Entrepreneur sukses di jamannya… beliau telah berbisnis dari masih sangat muda di umur 12 thn sewaktu diajak pamannya untuk ke Syam berbisnis (nah sudah saatnya anak muda sekarang mulailah mengikuti sunah rasul ini yaitu entrepreneur) nah dalam berdagang nabi mempunyai 4 tips yang selain mendapatkan keuntungan besar juga mendapatkan berkah dari Allah. Adapun ke 4 tips itu adalah :

1.      Jujur
Saat berdagang Nabi Muhammad SAW muda dikenal dengan julukan Al Amin (yang terpercaya). Sikap ini tercermin saat dia berhubungan dengan customer maupun pemasoknya.

Nabi Muhammad SAW mengambil stok barang dari Khadijah, konglomerat kaya yang akhirnya menjadi istrinya. Dia sangat jujur terhadap Khadijah. Dia pun jujur kepada pelanggan. Saat memasarkan barangnya dia menjelaskan semua keunggulan dan kelemahan barang yang dijualnya. Bagi Rasulullah kejujuran adalah brand-nya.

2.      Mencintai Customer
Dalam berdagang Rasulullah sangat mencintai customer seperti dia mencintai dirinya sendiri. Itu sebabnya dia melayani pelanggan dengan sepenuh hati. Bahkan, dia tak rela pelanggan tertipu saat membeli.
Sikap ini mengingatkan pada hadits yang beliau sampaikan, “Belum beriman seseorang sehingga dia mencintai saudaramu seperti mencintai dirimu sendiri.”

3.      Penuhi Janji
Nabi sejak dulu selalu berusaha memenuhi janji-janjinya.  Firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman penuhi janjimu.” (QS Al Maidah 3).

Dalam dunia pemasaran, ini berarti Rasulullah selalu memberikan value produknya seperti yang diiklankan atau dijanjikan. Dan untuk itu butuh upaya yang tidak kecil. Pernah suatu ketika Rasulullah marah saat ada pedagang mengurangi timbangan. Inilah kiat Nabi menjamin customer satisfaction (kepuasan pelanggan).

Di Indonesia mobil-mobil Toyota berjaya di pasar. Salah satu kiat pemasarannya adalah memberikan kepuasan pelanggan. Salah satu ukurannya adalah Call Centre Toyota dinobatkan sebagai call centre terbaik, mengalahkan Honda dan industri otomotif lainnya.

4.      Segmentasi ala Nabi
Nabi pernah marah saat melihat pedagang menyembunyikan jagung basah di sela-sela jagung kering. Hal itu berbeda dengan Nabi, saat menjual barang dia selalu menunjukkan bahwa barang ini bagus karena ini, dan barang ini kurang bagus, tapi harganya murah.

Ketika Rasulullah melewati seorang penjual makanan. Beliau tertarik ingin membelinya. Beliau lalu memasukkan tangannya ke tempat makanan tersebut untuk memilihnya. Beliau terkejut ketika tangannya merasakan makanan yang berada di bagian bawah ternyata basah. Beliau bertanya mengapa demikian. Pedagang itu menjawab bahwa dagangannya tertimpa air hujan. Beliau berkata sambil emnunjukkan ketidaksukaannya, “Mengapa engkau tidak meletakkkan makanan yang basah itu di atas agar pembeli bisa melihatnya.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda
من غشنا فليس منا
“Barang siapa yang mencurangi kami, bukan dari pengikut kami” (HR. Muslim)

Pelajaran dari kisah itu adalah bahwa Nabi selalu mengajarkan agar kita memberikan good value untuk barang yang dijual. Sekaligus Rasulullah mengajarkan segmentasi: barang bagus dijual dengan harga bagus dan barang dengan kualitas lebih rendah dijual dengan harga yang lebih rendah.

Prinsip bisnis Rasulullah Muhammad SAW.

Apakah modal utama memulai usaha? Jika Anda menjawab uang, mungkin benar, tapi tidak dalam bisnis ala Rasulullah SAW. “Yang menjadi number one capital dalam bisnis ala Rasulullah adalah kepercayaan (trust) dan kompetensi,” kata pakar ekonomi syariah, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec.

Menurut beliau, dalam trust itu ada integritas dan kemampuan melaksanakan usaha. “Rasulullah membangun usaha dari kecil, dari sekadar menjadi pekerja, kemudian dipercaya menjadi supervisor, manager, dan kemudian menjadi investor.

Perjalanan dari kuadran ke kuadran itu, menunjukkan bahwa Rasulullah adalah seorang entrepreneur yang memiliki strategi dalam mengembangkan usahanya dan karakteristik untuk mencapai sukses.

Sebagai pengusaha dan pemimpin, Rasulullah mempunyai sumber income yang sangat banyak. Namun beliau sangat ringan tangan memberi bantuan. “Beliau sangat tidak sabar melihat ada umat yang menderita dan tidak ridha melihat kemiskinan di sekitarnya atau kelaparan di depan matanya.

Itu sebabnya, Rasulullah selalu berinfak dengan kecepatan yang luar biasa, yang digambarkan para sahabatnya sebagai “seperti hembusan angin”. “Beliau menyedekahkan begitu banyak hartanya dan mengambil sedikit saja untuk diri dan keluarganya.

Sementara itu menurut Laode M. Kamaluddin. Ph.D. dalam bukunya “14 Langkah Bagaimana Rasulullah SAW Membangun Kerajaan Bisnis”, kejujuran dan keterbukaan Rasulullah dalam melakukan transaksi perdagangan merupakan teladan bagi seorang pengusaha generasi selanjutnya. Beliau selalu menepati janji dan mengantarkan barang dagangan dengan standar kualitas sesuai dengan permintaan pelanggan sehingga tidak pernah membuat pelanggannya mengeluh atau bahkan kecewa. Reputasi sebagai pelanggan yang benar-benar jujur telah tertanam dengan baik. Sejak muda, beliau selalu memperlihatkan rasa tanggung jawabnya terhadap setiap transaksi yang dilakukan.

Di dalam buku 14 Langkah Bagaimana Rasulullah SAW membangun Kerajaan Bisnis juga dipaparkan rahasia bisnis Rasulullah, antara lain menjadikan bekerja sebagai ladang menjemput surga, berpikir VISIONER, kreatif dan siap menghadapi perubahan, pintar mempromosikan diri, menggaji karyawan sebelum kering keringatnya, mengutamakan sinergisme, berbisnis dengan cinta, serta pandai bersyukur dan berucap terima kasih.

Selain memaparkan rahasia bisnis Rasulullah, Laode M. Kamaluddin. Ph.D juga memberi penekanan khusus pada pentingnya menjaga amanah. Sebab kesuksesan Rasulullah tak bisa lepas dari keberhasilannya menjaga kepercayaan (amanah), ini merupakan ciri utama dari aktivitas bisnis yang dilakukan oleh Rasulullah sehingga tidak ada satupun orang yang berinterakasi dengan beliau kecuali mendapatkan kepuasan yang luar biasa. Dan sangat pantas jika beliau mendapatkan gelar Al-Amiin (orang yang dapat dipercaya). Itulah modal terbesar yang tak bisa ditawar-tawar jika kita ingin sukses dalam berbisnis seperti Rasulullah.

Prof. Afzalul Rahman dalam buku Muhammad A Trader, mengungkapkan :
(Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang yang jujur dan adil (fairplay) dalam membuat perjanjian bisnis dan tidak pernah membuat para pelanggannya mengeluh (komplain). Beliau selalu menepati janjinya dan dalam menyerahkan/mengirimkan barang-barang pesanannya selalu tepat waktu dan tetap mengutamakan kualitas barang yang telah dipesan dan disepakati sebelumnya. Dalam berperilaku bisnis Beliau selalu menunjukkan rasa penuh tanggung jawab dan memiliki integritas yang tinggi di mata siapapun. Reputasi beliau sebagai seorang pedagang yang jujur dan adil telah dikenal luas sejak beliau masih muda).

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pedagang yang jujur dan adil serta dapat dipercaya dalam membuat perjanjian bisnis sehingga beliau sukses dalam usahanya. Bandingkan dengan keadaan saat ini yang ada di sekitar kita, ada sebagian saudara kita yang cenderung menghalalkan segala cara dalam menjual dagangannya. Fenomena penjual daging sapi glonggongan, daging sapi dicampur daging celeng, ayam tiren (ayam mati kemaren), borak, beras dicampur pemutih pakaian, pewarna makanan menggunakan pewarna kain dan masih banyak lagi. Mereka seolah tidak peduli dengan kerugian dan dampak yang akan diterima oleh pembelinya. Semakin membuat kita prihatin mereka berdalih “cari yang haram saja susah apalagi yang halal ?.

Di dunia maya-pun seolah tak mau ketinggalan, makin maraknya cyber crime, aksi tipu-tipu, scam, hoax, virus, pencurian data sampai pembobolan rekening dll, membuat kita semakin prihatin. Dari ke semua itu timbul pertanyaan di benak kita, masih adakah kejujuran dan keadilan serta amanah atau kepercayaan (trust) di sekitar kita?.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan dan petunjuk-Nya kepada kita semua. Semoga apa yang diajarkan Baginda Rasul SAW ini bisa kita terapkan dalam bisnis kita dan dapat menginspirasi buat temen temen semua amin

Diambil dari :
http://jendelaal-islam.blogspot.com/2013/01/cara-berdagang-ala-rasulullah-saw.html

Rabu, 29 Januari 2014

Pakaian Takwa Itulah yang Terbaik

By Buletin Ibnu Muqlah

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa. Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS Al-A’raaf : 26)
            Dalam ayat di atas, Allah subhaanahu wa ta’ala mengibaratkan takwa sebagai sebuah pakaian. Kita semua tahu bahwa sifat pakaian itu menjadi pelindung, memberi kenyamanan pada badan, dan menghindarkan diri dari rasa malu. Pada hakikatnya tampak orang yang berpakaian lebih mulia dibandingkan mereka yang tidak berpakaian. Demikian pula takwa, orang-orang yang memakaikan dirinya pakaian takwa, ia akan terlindungi serta Allah menganugerahi ketenangan di dalam hatinya di saat orang-orang di dunia dihantui rasa ketakutan dan kekhawatiran. Selain itu orang, berpakaian takwa justru menjadikan segala ancaman sebagai bentuk kepsarahan kepada Allah.
       Takwa adalah sebuah pilihan hidup, ibarat pakaian bisa dipakai ataupun tidak. Hal ini terjadi ketika dihadapan kita ada dua ajakan yang berbeda, antara berbuat maksiat dan berbuat kebaikan, saat itu kita punya kemampuan memilih mana yang kita mau. Telah diketahui bahwa akhir dari kehidupan ini adalah kehidupan di akhirat kelak, dimana pada saat itu ada golongan yang mendapat kenikmatan surga dan golongan yang mendapatkan siksa neraka yang tak terbayangkan betapa pedihnya siksaan di kala itu. Oleh karena itu, orang-orang yang bertakwa dapat kita anggap sebagai orang yang selamat dan bahagia. Sama halnya dengan asupan 4 sehat 5 sempurna, mereka akan mendapat karunia 4 bahagia 5 selamat. Apa sajakah itu??
1.    Kemampuan membedakan (Furqan)
          Dengan takwa, Allah ta’ala akan memberikan kita furqan yaitu kemampuan yang membuat kita bisa membedakan mana yang baik dan buruk. (QS Al-Anfaal : 29)
        Al-Furqaan (kemampuan membedakan) ini sangat dibutuhkan oleh setiap manusia yang ingin hidupnya selamat di dunia dan akhirat. Sebagaimana harapan yang selalu kita baca dalam setiap sholat ”Ihdinashshiroothol Mustaqiim” (tunjukilah kami ke jalan yang lurus).
     Begitu pentingnya kemampuan menemukan jalan petunjuk, Ibnu Katsir menafsirkan ayat Ihdinasshiraatal Mustaqiim dengan berkata: “Seandainya bukan karena sedemikian besar kebutuhan hamba untuk memohon hidayah siang dan malam, niscaya Allah ta’ala tidak perlu membimbing hamba-Nya untuk melakukan ini (membaca Al Fatihah di setiap rakaat sholat).
      Sesunggunya setiap hamba membutuhkan pertolongan Allah ta’ala di sepanjang waktu dan keadaan agar petunjuk itu tetap terjaga  serta kokoh tertanam.
2.    Barakah
Barakah artinya “bertambahnya kebaikan”. Kebaikan apa saja baik urusan dunia maupun amal akhirat.
3.    Jalan keluar
Firman Allah ta’aala : ”…Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.”
(QS At-Tholaaq : 2)
4.    Rizki
Firman Allah ta’aala : ”…Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberikannya rizki dari arah yang tak dia sangka…”
(QS At-Tholaaq : 2-3)
5.   Selamat Akhirat
Sebelumnya coba kita perhatikan hadits Rosulullooh shollolloohu ‘alaihi wa sallam berikut ini:
Dari Nu’man Bin Basyir rodhiyolloohu ‘anhumaa: Aku mendengar Rosulullooh shollolloohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seringan-ringan siksa penghuni neraka pada hari kiamat adalah seseorang yang diletakkan dibawah dua telapak kakinya dua bara api neraka sehingga mendidih otak yang ada di kepalanya(dari sebab panasnya kedua bara api neraka tersebut) Dia mengira bahwa tidak ada orang lain yang lebih dahsyat siksaan daripadanya, padahal dialah orang yang paling ringan siksanya.”(HR.Bukhari Muslim).
Siksaan yang paling ringan sebagaimana yang tergambarkan pada hadits di atas, lalu bagaimana dengan siksaan yang lebih dari itu??? Sungguh tak bisa terbayangkan bagaimana keadaan kita di masa itu.
         Oleh karena itu, keselamatan akhirat merupakan suatu karunia  terbesar yang diperoleh oleh orang-orang bertakwa. Tentunya semua orang sepakat bahwa tiba di kampung halaman dengan selamat merupakan sesuatu yang tak ternilai harganya. Terlebih lagi kampung halaman orang-orang mu’min adalah surga yang kenikmatan di dalamnya tak terbandingi oleh kenikmatan-kenikmatan yang ada di dunia.

Perintah Bertakwa Hingga Maut Menjemput

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepadaNya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali imron: 102)
             Syaikh As Sa’di rohimahullooh menjelaskan: “Ayat di atas merupakan perintah Allah untuk hamba-Nya yang beriman agar bertawa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya takwa dan tetap bertakwa hingga akhir hayat. Barangsiapa bersungguh-sungguh terhadap sesuatu, maka ia akan meningggal di atas sesuatu itu. Maka barang siapa yang keadaannya, hidupnya dan keberadaannya terus menerus di atas takwa kepada Rabbnya dan ketaatan kepada-Nya, kematian akan menimpanya di saat seperti itu. Allah ta’ala akan mengokohkan takwa ketika kematiannya dan memberinya kematian khusnul khatimah. Takwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana yang dikatakan Ibnu Mas’ud : Allah itu ditaati tidak dimaksiati, diingat tidak dilupakan, dan disyukuri tidak dikufuri. Ayat ini menunjukkan penjelasan hak Allah ta’ala yaitu ketakwaan hamba. Adapun kewajiban hamba terhadap takwa ini, yaitu sesuai ayat: ‘bertakwalah kepada Allah semampu kalian’ dan penjelasan tentang takwa itu di dalam hati dan diaplikasikan anggota badan sangat banyak. Kesemuanya menjelaskan takwa adalah mengerjakan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya”.