Pages

Sabtu, 15 Oktober 2011

Tawadhu’ (Rendah Hati)

Pengertian Tawadhu’ adalah rendah hati,  tidak sombong. Pengertian yang lebih dalam adalah kalau kita tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah yang lainnya.  Orang yang tawadhu’  adalah orang  menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari Allah SWT.  Yang dengan pemahamannya tersebut maka tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya kesombongan dan merasa lebih baik dari orang lain, tidak merasa bangga dengan potrensi dan prestasi yang sudah dicapainya. Ia tetap rendah diri dan selalu menjaga hati dan niat segala amal shalehnya dari segala sesuatu selain Allah. Tetap menjaga keikhlasan amal ibadahnya hanya karena Allah.

Tawadhu ialah bersikap tenang, sederhana dan sungguh-sungguh menjauhi perbuatan takabbur (sombong), ataupun sum’ah ingin diketahui orang lain amal kebaikan kita.

Tawadhu merupakan salah satu bagian dari akhlak mulia jadi sudah selayaknya kita sebagai umat muslim bersikap tawadhu, karena tawadhu merupakan salah satu akhlak terpuji yang wajib dimiliki oleh setiap umat islam. Perhatikan sabda Nabi SAW berikut ini :

Rasulullah SAW bersabda: yang artinya

“Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadhu’ kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat ‘izzah) oleh Allah. (HR. Muslim).

Iyadh bin Himar ra. berkata: Bersabda Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan kepadaku: “Bertawadhu’lah hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya.(HR. Muslim).

Rasulullah SAW bersabda,    

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Ibnu Taimiyah, seorang ahli dalam madzhab Hambali menerangkan dalam kitabnya, Madarijus Salikin bahwa tawadhu ialah menunaikan segala yang haq dengan bersungguh-sungguh, taat menghambakan diri kepada Allah sehingga benar-benar hamba Allah, (bukan hamba orang banyak, bukan hamba hawa nafsu dan bukan karena pengaruh siapa pun) dan tanpa menganggap dirinya tinggi.

Hakikat ‘Ujub (Berbangga Diri) & Penyebabnya

‘Ujub secara bahasa adalah membanggakan (mengherankan) diri dalam hati (bathin), sedangkan dalam istilah diartikan memastikan (wajib) keselamatan badan dari siksa akhirat.  ‘Ujub termasuk dalam kategori dosa besar, dimana dalam hatinya bercongkol suatu sifat yang dapat menghilangkan kekuasaan Allah, termasuk dalam segala perbuatan yang telah Allah ciptakan (sifat baik dan buruk)[1],maka dari itu

Allah berfirman dalam surah Al-A’raf  ayat 99:

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi”.

Dari pemaparan diatas dapat kita fahami bahwa ‘ujub yaitu suatu sikap membanggakan diri, dengan memberikan satu penghargaan yang terlalu berlebihan kepada kemampuan diri dalam hal menghindar dari siksa neraka. Sikap ini tercermin pada rasa tinggi diri (superiority complex) dalam bidang keilmuan, amal perbuatan ataupun kesempurnaan moral. Sehingga sampai pada sebuah kesimpulan sudah tidak memperdulikan bahwa sebenarnya Allah-lah yang membuat kebaikan ataupun keburukan, serta Dia-lah yang melimpahkan kenikmatan yang nyata[2].

Maka dari itu, Allah kembali mengingatkan kepada orang-orang yang beriman mengenai sifat ‘ujub ini dalam surah Al-An’am ayat 82:

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“ Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Pendapat Syaikh Ahmad Rifai seiring dengan hadith Nabi SAW yang diriwatakan oleh Imam Tabrani, sebagaimana yang telah di kutip oleh Imam al-Ghazali, yaitu:

“Tiga perkara yang membinasakan yaitu: kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman(takjub) seseorang kepada dirinya sendiri (‘Ujub[3])”.

Jumat, 23 September 2011

Buah dari Tawakkal

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Buah dari tawakkal kepada Allah Ta’ala amatlah banyak.

Yang paling utama adalah “Allah akan mencukupi segala urusan orang yang bertawakkal.”

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3)

Barangsiapa yang menyandarkan urusannya pada Allah, hanya menyandarkan kepada Allah semata, ia pun mengakui bahwa tidak ada yang bisa mendatangkan kebaikan dan menghilangkan bahaya selain Allah, maka sebagaimana dalam ayat dikatakan, “Allah-lah yang akan mencukupinya.” Yaitu Allah menyelamatkannya dari berbagai bahaya. Karena yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan. Ketika seseorang bertawakkal pada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, Allah pun membalasnya dengan mencukupinya, yaitu memudahkan urusannya. Allah yang akan memudahkan urusannya dan tidak menyandarkan pada selain-Nya. Inilah sebesar-besarnya buah tawakkal.

ILMU, ADAB DAN TATA CARA MENCARINYA

MUQODDIMAH

Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Alloh Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya, dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat. (HR. Ar-Rabii')

"Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui". (QS. Az Zumar: 9).

Wahai Aba Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah lebih baik bagimu daripada shalat (sunnah) seratus rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik daripada shalat seribu raka'at. (HR. Ibnu Majah)

Ibnu Taimiyah : ilmu yang baik adalah ilmu yang mengarah kepada pemahaman Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena keduanya merupakan warisan Nabi. Siapa mau mengambil keduanya, maka akan beruntung.

Ibnu Abbas : benih-benih pengetahuan adalah mempelajari ilmu.

Ibnul Mubarok : pertama kali ilmu adalah niat, kemudian mendengarkan, kemudian memahami, kemudian menghafal, kemudian mengamalkan, kemudian menyampaikan kepada orang lain.

Umar Maula Ghufroh : Orang yang pandai itu masih bisa dikatakan pandai selama ia tidak mendahulukan akal/hawa nafsu / ro’yu-nya kemudian ia mau mendatangi orang yang lebih pintar lagi darinya untuk menimba ilmunya.

Abu Kholid Al-Ahmar : akan datang suatu masa, mushaf Al-Qur’an dan tafsirnya tidak dibaca dan dikaji lagi, manusia saat itu hanya mengikuti pembicaraan dan pendapat seseorang. Hindarilah sikap seperti itu, jika tidak, hal itu hanya akan menampar wajah, memperpanjang komentar yang tidak jelas ujung pangkalnya dan membuat rusaknya hati.

Rusaknya pemikiran, mental & tindakan manusia hari ini merebak di berbagai kolong bumi. Keluarga yang nampaknya muslim telah teracuni pemikiran sekuler dan kafir, sehingga mereka jauh dari pemahaman Islam yang benar. Secara lahiriyah, gelar-gelar akademis sebagai Guru, Alim-ulama, Doktor, Sarjana, Profesor dan status sosial di tengah masyarakat sebagai ketua RT, RW, Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, Menteri, Presiden bahkan sampai Direktur perusahaan tertentu telah mereka raih, akan tetapi hal itu tidak menjadikan mereka merasa takut kepada Allah dan semakin benar sikap ibadah kepada-Nya, bahkan bersikap sebaliknya.

Hal ini barangkali disebabkan ketika mencari ilmu, ada beberapa hal yang tidak benar, yaitu belum mengerti adab-adab mencari ilmu dan bagaimana cara meraih/mendapatkan ilmu yang bermanfaat. agar diri dan keluarga muslim tidak terjebak oleh pengaruh orang-orang kafir dan sekuler, kita ikuti kajian berikut ini.

Minggu, 18 September 2011

[Si Belang – Si Botak –Si Buta]


Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dia pernah mendengar Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  bersabda, "Pada zaman dahulu, ada tiga orang Bani Israil yang terserang penyakit yang berbeda. Yang satu terserang penyakit kusta, hingga mempunyai kulit yang belang. Yang satu lagi terserang penyakit kudis, hingga kepalanya botak. dan yang terakhir terserang penyakit buta. Karena ingin menguji keimanan tiga orang ini, maka Allah pun mengutus seorang malaikat kepada mereka

Dengan Siapa Kamu Berteman


عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ الْهَمْدَانِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
Dari Abu Musa RA dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan teman dekat yang baik dan teman dekat yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Seorang penjual minyak wangi terkadang mengoleskan minyak wanginya kepada kamu dan terkadang kamu membelinya sebagian atau kamu dapat mencium semerbak harumnya minyak wangi itu. Sementara tukang pandai besi adakalanya ia membakar pakaian kamu ataupun kamu akan mencium baunya yang tidak sedap" [H.R Muslim]
Manusia, kita sebut sebagai makhluk sosial dikarenan dirinya tidak dapat hidup seorang diri. Maksudnya adalah bahwa dia tidak dapat memenuhi semuanya dengan usaha sendiri, tentlah ia membutuhkan bantuan baik dari orang tuanya maupun dari temannya ataupun dari pihak lain. Tentunya semua yang dapat ia lakukan itu atas izin dari Allah jalla jalaaluh.

Kamis, 25 Agustus 2011

Musker periode 2011-2012


Alhamdulillah….,DSC00362
Musker telah diadakan tepatnya pada hari jum’at tanggal 19 Agustus 2011. musker diadakan di BU dalam MMI ITS. acara dimulai jam setengah delapan pagi, meskipun pada jadwal acara dimulai jam tujuh, hal tersebut karena menunggu perserta yang belum datang dan juga perwakilan dari JMMI ITS. Yang bertindak sebagai moderator yakni dik ardo dengan notulen dik andi. Susunan acaranya pertama adalah sambutan dari Ketum, Perwakilan JMMI, dan DPP. kemudian dilanjutkan oleh presentasi dari Departemen TI yang dibawakan oleh ridwan, kemudian departemen kaderisasi yang dibawakan oleh dik lulu, selanjutnya dari departemen humas oleh bima. meskipun pada jadwal acara presentasi dari departemen humas dimulai setelah jumatan, namun karena jam setengah sebelas dari departemen kaderisasi sudah selesai. maka untuk mempercepat acara dilanjautkan oleh departemen humas sampai jam 11, kemudian ISOMAT (istirahat sholat jum’at) jam sebelas sampai jam satu. Setelah jam satu musker dipending sampai jam setengah dua, karena menunggu peserta yang belum balik. setelah setengah dua musker dimulai lagi dengan melanjutkan presentasi dari departemen humas yang belum selesai. Pada jam dua presentasi dilanjutkan oleh departemen danus yang dibawakan oleh udet. setelah jam tiga-an musker dipending untuk sholat ashar dan dilanjutkan pada jam setengah empat.yang kemudian dilanjutkan oleh departemen keputrian yang dibacakan oleh saudari widha. setelah pukul empat sore presentasi dilanjutkan oleh DPP yang dibawakan oleh mas ade, kemudian pada akhir acara dilakukan penutupan yang dibacakan oleh mas ade. jam 5 musker selesai.
Alhamdulillah musker berjalan lancar dan berakhir tepat waktu. meskipun ada proker yang masih perlu di-fix kan lagi, Semoga semua proker yang direncanakan oleh tiap depertemen dapat berjalan. amin ya robbal ‘alamin….

Rabu, 24 Agustus 2011

Suasana waktu WP dan Bukber

Alhamdulillah..,
WP telah selesai, WP diadakan waktu hari pertama FRS yakni hari senin tanggal 15 Agustus 2011. acara dimulai pukul 16.00 sampai menjealng buka puasa. WP bertempat di BU luar MMI ITS. acara WP di buka oleh yanu. dengan mas solikin sebagai pembicaranya. dengan membawakan materi tentang motivasi. motivasi sangat diperlukan untung memacu semangat para pengurus IM periode 2011-2012. pada akhirnya kumandang adzan magrib berkumandang, dengan minuman es dan camilan gorengan seadanya kami mempercepat buka puasa. kemudian acara selesai. kami melanjutkannya dengan sholat magrib di Masjid Manarul Ilmi ITS.